Gayo Lues|BidikIndonesia.com – Suara air sungai terdengar sejak pertama kali kendaraan memasuki kawasan Kampung Persiapan Ise-Ise, Kecamatan Pantan Cuaca, Kabupaten Gayo Lues. Gemericiknya memecah kesunyian pegunungan, berpadu dengan desir angin yang bergerak pelan di sela pepohonan hutan tropis. Udara dingin langsung terasa menyelimuti tubuh, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih segar oleh embun.
Di tempat itulah Kafewe Ise-Ise berdiri. Sebuah destinasi wisata alam yang belakangan mulai dikenal luas karena menghadirkan sesuatu yang kini semakin sulit ditemukan: ketenangan alami yang masih murni.
Tidak ada gedung tinggi, tidak ada suara musik keras, tidak pula hiruk-pikuk kendaraan yang bersahutan. Yang ada hanyalah aliran air jernih, hutan hijau yang memagari sungai, serta pondok-pondok kayu sederhana tempat orang-orang duduk menikmati waktu yang berjalan perlahan.
Bagi masyarakat Gayo Lues, Kafewe Ise-Ise bukan sekadar tempat wisata. Tempat ini adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama alam.
Perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman tersendiri bagi siapa saja yang datang dari luar daerah. Dari Kota Blangkejeren, jalan menuju Pantan Cuaca membelah perbukitan dan lembah hijau yang membentang panjang. Kabut tipis kerap turun menyelimuti puncak pegunungan, sementara udara perlahan berubah semakin dingin seiring kendaraan bergerak menuju dataran tinggi.
Bagi pengendara roda dua, perjalanan sekitar satu jam terasa seperti petualangan menyenangkan. Tikungan demi tikungan menghadirkan panorama hutan dan pegunungan yang memanjakan mata. Sedangkan bagi wisatawan yang datang bersama keluarga menggunakan mobil, perjalanan sekitar satu jam lima belas menit terasa nyaman karena akses jalan yang relatif mudah dilalui.
Sesampainya di Kampung Ise-Ise, pengunjung tidak perlu mendaki jauh untuk menikmati pesona alam tersebut. Dari jalan raya utama, hanya diperlukan berjalan kaki sekitar seratus meter untuk mencapai kawasan sungai.
Begitu tiba, suasana langsung berubah.
Air sungai yang mengalir dari kawasan hutan rimba Pantan Cuaca tampak begitu bening hingga dasar sungai terlihat jelas. Batu-batu besar berwarna kehitaman tersusun alami di sepanjang aliran air, sementara pepohonan rindang menciptakan bayangan yang membuat suasana terasa teduh.
Sebagian pengunjung memilih duduk di atas batu sambil merendam kaki. Sebagian lainnya menikmati kopi hangat di pondok kayu sederhana yang dibangun di tepian sungai. Tidak sedikit pula yang datang hanya untuk mendengarkan suara alam sambil melepaskan penat dari rutinitas kehidupan kota.
Bagi Pachrezi Syafa Cane, Kafewe Ise-Ise memiliki makna yang lebih dari sekadar tempat wisata.
Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Sipil Universitas Syiah Kuala itu mengaku sering datang ke lokasi tersebut setiap kali pulang ke kampung halaman. Menurutnya, suasana alami yang masih terjaga membuat tempat itu menjadi ruang terbaik untuk menenangkan pikiran.
“Di sini orang bisa benar-benar merasakan kedamaian. Alamnya masih sangat asri, airnya jernih, dan udaranya begitu segar,” ujarnya.
Ia menilai keunggulan utama Kafewe Ise-Ise justru terletak pada kesederhanaannya. Tempat ini tidak dibangun dengan konsep wisata modern yang dipenuhi bangunan permanen atau wahana buatan. Sebaliknya, masyarakat setempat memilih mempertahankan nuansa alami agar pengunjung benar-benar merasakan kedekatan dengan alam.
Konsep itulah yang membuat Kafewe Ise-Ise terasa berbeda dibandingkan banyak destinasi wisata lain.
Di lokasi tersebut, pengunjung bisa menikmati kopi Gayo hangat sambil mendengar suara air sungai yang terus mengalir. Udara pegunungan yang bersih membuat siapa saja betah berlama-lama duduk di pondok kayu sederhana.
Anak-anak terlihat bermain di tepian sungai, sementara orang dewasa menikmati percakapan santai ditemani suasana hutan yang tenang. Tidak sedikit wisatawan yang sengaja datang untuk “menjauh” sejenak dari kehidupan digital dan kesibukan pekerjaan.
Di tengah berkembangnya tren wisata modern, Kafewe Ise-Ise justru menawarkan pengalaman kembali menyatu dengan alam.
Namun perjalanan destinasi wisata ini tidak selalu berjalan mulus.
Pada akhir 2025 lalu, sejumlah wilayah di Aceh dilanda banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem. Beberapa destinasi wisata di Gayo Lues ikut terdampak, termasuk fasilitas wisata di kawasan Kafewe Ise-Ise.
Derasnya arus sungai merusak sebagian pondok kayu dan beberapa fasilitas pendukung lainnya. Beberapa akses menuju lokasi juga sempat terganggu akibat longsoran tanah.
Bagi sebagian tempat wisata, bencana seperti itu mungkin menjadi akhir dari aktivitas pariwisata. Namun tidak bagi masyarakat Kampung Ise-Ise.
Dengan semangat gotong royong yang masih kuat, warga bergerak bersama memperbaiki kerusakan yang ada. Mereka membangun kembali pondok-pondok wisata, memperbaiki jembatan kayu, serta membersihkan kawasan sungai agar tetap nyaman dikunjungi wisatawan.
Tidak ada perusahaan besar atau investor besar yang bekerja di sana.
Yang ada hanyalah masyarakat desa yang percaya bahwa alam yang mereka jaga akan terus memberi kehidupan.
Kebersamaan masyarakat itulah yang menjadi kekuatan utama Kafewe Ise-Ise. Wisata ini tumbuh bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kepedulian warga yang menjaga kawasan tersebut dengan penuh kesadaran.
Setiap pengunjung yang datang tidak diperlakukan sekadar sebagai wisatawan, melainkan seperti tamu yang dihormati.
Keramahan masyarakat Gayo terasa begitu kuat di tempat itu. Pengunjung kerap disambut dengan senyum hangat, sapaan sederhana, hingga ajakan menikmati kopi bersama di pondok-pondok kecil pinggir sungai.
Seiring berkembangnya media sosial, nama Kafewe Ise-Ise perlahan mulai dikenal lebih luas. Foto-foto air sungai yang jernih, panorama hutan hijau, dan suasana alami yang menenangkan banyak menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah.
Tidak hanya dari Gayo Lues dan Aceh Tengah, pengunjung kini mulai datang dari Banda Aceh, Medan, bahkan luar provinsi lainnya.
Namun di tengah meningkatnya jumlah wisatawan, masyarakat setempat tetap berupaya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian alam. Mereka menyadari bahwa daya tarik utama Kafewe Ise-Ise justru terletak pada keaslian lingkungannya.
Karena itu, menjaga hutan dan sungai menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Bagi masyarakat setempat, hutan bukan hanya bentang alam semata. Hutan adalah sumber kehidupan yang menyediakan air bersih, udara segar, sekaligus penghidupan melalui sektor wisata.
Keberadaan Kafewe Ise-Ise menjadi bukti bahwa alam yang dijaga dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomi tanpa harus kehilangan keasriannya.
Selain Kafewe Ise-Ise, Gayo Lues juga dikenal memiliki berbagai destinasi wisata alam lain yang memikat. Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser misalnya, menjadi salah satu pusat ekowisata yang terkenal hingga mancanegara karena kekayaan flora dan fauna yang dimilikinya.
Meski beberapa destinasi masih dalam tahap pemulihan pascabencana, pesona alam Gayo Lues tetap menghadirkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan pencinta alam.
Di tengah derasnya pembangunan dan modernisasi, Kafewe Ise-Ise seolah mengingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan ruang untuk kembali dekat dengan alam.
Tempat ini bukan hanya tentang sungai yang jernih atau udara pegunungan yang dingin. Ia adalah ruang tenang bagi siapa saja yang ingin berhenti sejenak dari kebisingan dunia.
Di sana, waktu terasa berjalan lebih lambat.
Orang-orang duduk menikmati suara air, menyeruput kopi hangat, dan membiarkan pikirannya larut dalam ketenangan hutan Gayo Lues.
Dan ketika senja mulai turun di balik pegunungan Pantan Cuaca, suara sungai tetap mengalir seperti biasa—membawa kesejukan, kedamaian, dan kerinduan bagi siapa saja yang pernah datang menikmati pelukan alam Kafewe Ise-Ise.
