Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Aceh mencatat transaksi dari penjualan daring dan luring serta ekspor produk UMKM Aceh (binaan) dalam kegiatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 mencapai Rp7,98 miliar.
“Total nilai penjualan dan realisasi ekspor UMKM Aceh menembus angka fantastis sebesar Rp7,98 miliar, meningkat 400 persen dari tahun lalu,” kata Kepala KPwBI Aceh, Agus Chusaini dalam keterangannya, di Banda Aceh, Kamis.
Seperti diketahui, Bank Indonesia telah menyelenggarakan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 dengan tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”, di Jakarta International Convention Center (JICC) Hall A-B, pada 20–23 Agustus 2026.
Event tersebut menghadirkan produk UMKM dari berbagai wilayah Indonesia, KKI 2026. Kegiatan ini sebagai upaya membantu meningkatkan kapasitas, memperluas akses pasar, serta memperkuat daya saing produk unggulan daerah.
Adapun rincian transaksi Rp7,9 miliar UMKM binaan KPwBI Aceh selama KKI 2026 tersebut yakni penjualan secara luring tembus Rp626,70 juta dan daring melesat hingga Rp2,86 miliar. Sedangkan realisasi ekspor menyentuh angka Rp4,50 miliar.
Agus menyampaikan, keikutsertaan UMKM Aceh menjadi bagian dari langkah strategis memperkenalkan kekayaan produk lokal Aceh ke tingkat nasional hingga pasar global, mulai dari wastra, fesyen, kriya, hingga kopi dan lainnya.
Menurut Agus, capaian tersebut mencerminkan lonjakan signifikan transaksi UMKM Aceh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekaligus menorehkan rekor tertinggi sepanjang keikutsertaan KPwBI Aceh dalam ajang KKI.
Capaian tersebut, lanjut dia, menunjukkan bahwa produk unggulan Aceh memiliki potensi yang semakin besar untuk bersaing di pasar nasional dan global.
“Lonjakan ini menjadi bukti nyata semakin kuatnya daya saing produk UMKM Aceh, seiring semakin terbukanya akses terhadap kanal pasar domestik, digital, hingga pasar ekspor,” katanya.
Dalam kesempatan ini, KPwBI Aceh berkomitmen untuk terus memperkuat pengembangan UMKM melalui peningkatan kapasitas usaha, inovasi dan kualitas produk, digitalisasi, perluasan akses pasar dan pembiayaan, serta fasilitasi UMKM menuju pasar ekspor.
“Sinergi dengan pemerintah daerah, perbankan, dunia usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya akan terus diperkuat guna membangun ekosistem UMKM Aceh yang semakin terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan,” demikian Agus Chusaini.
