Pesona Negeri Pase, Harmoni Ibadah, Warisan, dan Kuliner Legendaris

Masjid HM Hanafiah, atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Masjid Putih Lhoksukon

Lhoksukon|BidikIndonesia.com – Jalan lintas Sumatra yang membelah Aceh Utara selalu terlihat sibuk sejak pagi. Truk-truk besar bergerak perlahan membawa hasil bumi, bus antarkota melaju menuju Banda Aceh maupun Medan, sementara kendaraan pribadi silih berganti melintasi jalan panjang yang menjadi urat nadi perjalanan di pesisir utara Aceh itu.

Namun bagi sebagian orang, Aceh Utara bukan sekadar daerah yang dilewati.Kabupaten yang pernah menjadi bagian penting dari kejayaan Kerajaan Samudera Pasai ini menyimpan banyak cerita tentang budaya, religi, dan kehidupan masyarakat yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.

Di sepanjang perjalanan, wisatawan tidak hanya menemukan masjid megah atau kuliner khas yang menggoda selera, tetapi juga jejak tradisi yang masih hidup melalui tangan-tangan masyarakat sederhana yang menjaga warisan leluhur mereka.

Menurut Muqsal Mina, Aceh Utara memiliki wajah pariwisata yang lengkap.“Di sini orang bisa menikmati wisata religi, melihat langsung budaya yang masih hidup, sekaligus mencicipi kuliner khas yang sudah terkenal sejak lama,” ujarnya.Bagi para pelintas jalan lintas Sumatra, Aceh Utara menghadirkan alasan untuk berhenti sejenak.

Bacaan Lainnya

Bukan hanya untuk beristirahat, tetapi untuk menikmati perjalanan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

Masjid Putih yang Menjadi Ikon Baru Lhoksukon. Menjelang sore, suasana di Desa Ranto, Kecamatan Lhoksukon, perlahan berubah lebih ramai. Aktivitas masyarakat masih berlangsung di sekitar pusat kota, sementara cahaya matahari mulai meredup keemasan di langit Aceh Utara.

Di tengah kawasan itu berdiri sebuah bangunan megah bercat putih yang langsung menarik perhatian siapa saja yang melintas.

Masyarakat mengenalnya sebagai Masjid Putih Lhoksukon.Nama resminya adalah Masjid HM Hanafiah, sebuah masjid megah dengan tujuh kubah besar dan dua menara tinggi yang menjulang di langit kota.

Arsitekturnya menghadirkan nuansa Timur Tengah yang elegan. Dari kejauhan, bangunan tersebut tampak begitu mencolok di tengah suasana kota yang sederhana.

Ketika azan asar berkumandang, suasana masjid berubah semakin hidup.Musafir yang sedang dalam perjalanan panjang mulai singgah untuk menunaikan salat. Sebagian masyarakat datang bersama keluarga, sementara wisatawan tampak sibuk mengabadikan keindahan bangunan dari pelataran masjid yang luas dan tertata rapi.

Masjid yang berdiri di atas lahan lebih dari enam ribu meter persegi itu diresmikan pada Maret 2024, tepat setahun setelah wafatnya H. Muhammad Hanafiah, pendiri perusahaan otomotif PT Dunia Barusa.

Bagi masyarakat Aceh Utara, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia telah menjadi simbol kebanggaan daerah.Saatmemasuki ruang utama salat, suasana megah langsung terasa. Lampu gantung kristal menggantung di tengah ruangan, sementara ornamen kaligrafi bernuansa emas menghiasi bagian mihrab.

Karpet berwarna krem membentang rapi, menghadirkan suasana nyaman dan tenang bagi para jemaah.

Masjid ini juga dirancang ramah bagi penyandang disabilitas dan lansia. Jalur kursi roda, toilet khusus, hingga fasilitas penunjang lainnya disediakan untuk memastikan semua orang dapat beribadah dengan nyaman.

Tidak heran jika masjid tersebut pernah masuk nominasi Masjid Ramah Difabel dan Lansia tingkat Provinsi Aceh.

Bagi banyak orang yang singgah, Masjid Putih Lhoksukon tidak hanya menghadirkan kemegahan arsitektur, tetapi juga rasa teduh di tengah perjalanan panjang.

Bara Api Rencong yang Tetap Menyala. Dari Lhoksukon, perjalanan menuju Kecamatan Tanah Pasir menghadirkan suasana yang berbeda.

Di Desa Pande, suara dentingan besi terdengar dari sebuah bengkel sederhana beratap daun rumbia. Di tempat itulah Ishak Abdullah atau yang akrab disapa Utoh Ishak masih setia menjaga tradisi menempa rencong.

Api tungku menyala merah di sudut bengkel.Dengan palu di tangan, ia memukul logam panas perlahan demi perlahan. Percikan api beterbangan, sementara suara besi yang beradu menciptakan ritme khas yang terdengar seperti irama kerja dari masa lalu.

Bagi masyarakat Aceh, rencong bukan sekadar senjata tradisional.Ia adalah simbol kehormatan dan identitas budaya.Bentuknya yang menyerupai kaligrafi “Bismillah” menghadirkan filosofi mendalam tentang keberanian, keimanan, dan harga diri masyarakat Aceh.

Utoh Ishak telah menekuni profesi itu sejak 1983.Kini, ia menjadi salah satu pengrajin rencong terakhir yang masih bertahan di kawasan tersebut.“Pandai besi masih ada, tapi pandai rencong tinggal saya,” katanya pelan.

Membuat rencong membutuhkan ketelitian dan kesabaran tinggi. Untuk satu rencong kecil, proses pengerjaan bisa selesai dalam sehari. Namun untuk ukuran besar dengan detail rumit, pengerjaan dapat berlangsung hingga berminggu-minggu.

Sebelum pandemi, karya-karya Utoh Ishak bahkan pernah dikirim ke luar negeri sebagai koleksi budaya dan cendera mata khas Aceh.

Kini, selain dijual kepada kolektor, rencong juga banyak dibeli wisatawan sebagai simbol identitas budaya Aceh yang masih hidup hingga hari ini.

Meski rencong telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2013, tantangan terbesar saat ini adalah regenerasi.

Karena itu, Utoh Ishak mulai mengajarkan keterampilan tersebut kepada anaknya agar tradisi menempa rencong tidak hilang ditelan zaman.

Di tengah perkembangan modernisasi, suara palu yang terdengar dari bengkel kecil itu seolah menjadi pengingat bahwa budaya tetap hidup selama masih ada tangan yang mau menjaganya.

Martabak Durian yang Menjadi Identitas Geudong. Perjalanan di Aceh Utara terasa belum lengkap tanpa singgah di Geudong.

Dari kejauhan, aroma durian mulai tercium di sepanjang jalan nasional Banda Aceh–Medan. Di kawasan itu berdiri sebuah tempat makan legendaris yang hampir tidak pernah sepi pengunjung: Martabak Durian Samudera Pase.Usaha kuliner yang berdiri sejak 1983 itu telah menjadi bagian dari identitas Geudong.

Siang maupun malam, pengunjung terus berdatangan. Sebagian besar adalah pelintas jalan lintas Sumatra yang sengaja berhenti untuk mencicipi martabak durian khas Aceh Utara.

Di dapur terbuka, para pekerja tampak sibuk memipihkan adonan sebelum memanggangnya di atas wajan panas. Setelah itu, daging durian lokal yang legit dimasukkan ke dalam martabak lalu dilipat hingga matang sempurna.

Aroma manis durian bercampur dengan harum kulit martabak langsung memenuhi ruangan.Kuliner ini dirintis oleh Haji Tengku Muhammad Rasyid dan hingga kini tetap mempertahankan resep yang sama sejak puluhan tahun lalu.

Yang membuatnya berbeda adalah penggunaan durian lokal Aceh dengan rasa kuat, legit, dan sedikit pahit khas durian asli.

Selain martabak, pengunjung juga bisa menikmati es campur durian yang segar setelah menempuh perjalanan panjang.

Menariknya lagi, tempat makan ini buka selama dua puluh empat jam penuh.Tidak heran jika Martabak Durian Samudera Pase menjadi lokasi singgah favorit bagi banyak orang yang melintas di Aceh Utara.

Bagi dunia pariwisata, kuliner seperti ini bukan sekadar makanan.Ia adalah bagian dari identitas budaya yang menghadirkan kenangan bagi siapa saja yang pernah mencicipinya.

Perjalanan yang Menyimpan Banyak Cerita.Aceh Utara hari ini tidak hanya dikenal melalui sejarah besar Samudera Pasai atau tokoh-tokoh penting yang lahir dari daerah tersebut.

Kabupaten ini perlahan menghadirkan wajah pariwisata yang tumbuh dari kehidupan masyarakatnya sendiri.

Mulai dari masjid megah yang menjadi simbol religi modern, bengkel kecil tempat rencong ditempa dengan penuh kesabaran, hingga aroma martabak durian yang menyambut para pelintas jalan.

Semuanya memperlihatkan bagaimana Aceh Utara menjaga identitasnya di tengah perkembangan zaman.Di Negeri Pase ini, perjalanan bukan hanya soal menuju tujuan akhir.Tetapi tentang menikmati setiap cerita yang tumbuh di sepanjang jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *