Kota Jantho|BidikIndonesia.com — Layanan air bersih terganggu akibat banjir dan listrik padam di Kabupaten Aceh Besar. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar bersama PDAM Tirta Mountala menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat menyusul terganggunya distribusi air bersih akibat dampak lanjutan bencana banjir di Aceh serta pemadaman listrik berkepanjangan yang memengaruhi operasional fasilitas vital.
Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Besar sekaligus Ketua Dewan Pengawas PDAM Tirta Mountala, Bahrul Jamil SSos MSi, mengatakan gangguan pelayanan air bersih tersebut bukan disebabkan kelalaian teknis, melainkan akibat kondisi darurat bencana dan krisis pasokan listrik yang berdampak langsung pada sistem produksi dan distribusi air bersih.
“Meski Aceh Besar tidak terdampak langsung oleh banjir, efek lanjutan dari kondisi darurat tersebut sangat memengaruhi operasional PDAM. Kami memohon maaf kepada seluruh masyarakat Aceh Besar,” ujar Bahrul Jamil saat konferensi pers di Kantor PDAM Tirta Mountala.
Direktur Utama PDAM Tirta Mountala Aceh Besar, Ir. Sulaiman MSI, menjelaskan bahwa Gangguan layanan air bersih ini terjadi seiring terganggunya dua intake air baku serta terbatasnya pasokan listrik dari PLN. Ketergantungan PDAM terhadap listrik menyebabkan distribusi air bersih tidak dapat berjalan optimal, terutama di wilayah ujung jaringan saat jam-jam puncak penggunaan.
“Beberapa pompa terendam dan tidak bisa berfungsi normal. Setelah air surut, tim harus melakukan pembersihan manual. Alhamdulillah, dalam sepekan terakhir tiga pompa sudah kembali beroperasi meski masih bergantian,” katanya.
Selain dampak banjir, pemadaman listrik dari PLN menjadi kendala utama. Ketergantungan PDAM terhadap pasokan listrik sangat tinggi, sementara genset yang tersedia hanya mampu menopang operasional dalam waktu terbatas.
“Genset hanya mampu bekerja satu hingga dua jam. Jika listrik padam berkepanjangan, pelayanan air bersih tidak dapat berjalan maksimal,” ujar Sulaiman.
Meski demikian, PDAM mencatat suplai air bersih selama masa krisis masih dapat dipertahankan di kisaran 75 hingga 80 persen, meskipun sejumlah wilayah di ujung jaringan mengalami keterbatasan distribusi, terutama pada jam-jam puncak.
Direktur Umum PDAM Tirta Mountala Aceh Besar, David Zainal SE, mengungkapkan lonjakan signifikan biaya operasional selama masa bencana. Sejak banjir melanda pada 27 November 2025, PDAM telah menghabiskan sekitar 37 ton bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional genset selama 15 hari.
“Dalam kondisi normal, penggunaan BBM genset hanya sekitar 10 ton per tahun. Namun kali ini melonjak drastis, dengan harga BBM mencapai Rp20 ribu per liter,” ungkapnya.
Pemkab Aceh Besar dan PDAM Tirta Mountala berharap PLN dapat memprioritaskan suplai listrik bagi fasilitas pelayanan publik seperti PDAM, agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, khususnya dalam kondisi darurat. (*)
