Sukses operasi ketujuh, RSUDZA jadi rumah sakit mandiri transplantasi ginjal

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Aceh dinyatakan menjadi rumah sakit mandiri oleh Tim RSUP dr Cipto Mangunkusumo setelah tim dokter rumah sakit tersebut berhasil melaksanakan transplantasi ginjal ketujuh.

“Alhamdulillah. Hari ini kita sudah melaksanakan transplantasi ke-7 di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin ini. Kita dari RSUP dr Cipto Mangunkusumo menyatakan bahwa tim transplantasi dari rumah sakit ini sudah bisa mandiri,” kata Ketua tim transplantasi RSUP dr Cipto Mangunkusumo, Prof.Dr.dr. Nur Rasyid, SpU(K) di RSUDZA, Banda Aceh, Senin.

Ia menjelaskan untuk transplantasi ginjal sudah sepenuhnya dapat dilakukan secara mandiri di RSUDZA dan untuk konsultasi yang dibutuhkan dapat dikonsultasikan secara daring.

Menurut dia untuk sumber daya manusia dan juga alat pendukung untuk pelaksanaan transplantasi ginjal sudah tersedia di rumah sakit milik kebanggaan masyarakat Aceh tersebut.

“Mungkin yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan selanjutnya oleh RSUDZA adalah kesinambungan. Jadi transplantasi ginjal ini tidak bisa setahun sekali misalnya. Jadi kalau bisa dikerjakan lebih teratur, tentu hasilnya akan lebih baik,” katanya.

Bacaan Lainnya

Ia menambahkan bagi masyarakat yang ingin melaksanakan transplantasi ginjal tidak perlu jauh-jauh lagi, karena di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin sudah bisa melaksanakan cuci darah, peritoneal dialisis, dan yang terakhir bisa dilakukan di sini adalah transplantasi ginjal.

Direktur RSUDZA, Muhazar menyampaikan pelayanan transplantasi ginjal merupakan program unggulan rumah sakit milik Pemerintah Aceh yang saat ini telah berhasil melaksanakan operasi transplantasi ginjal ketujuh yang telah dimulai sejak 2016.

“Alhamdulillah, kita sukses melaksanakan operasi transplantasi ginjal ketujuh sehingga saat ini RSUDZA dinyatakan telah mandiri untuk melaksanakan transplantasi ginjal tanpa perlu ada pendampingan lagi dari Tim RSUP dr Cipto Mangunkusumo,” katanya.

Ia juga mengatakan konsistensi dan keberhasilan layanan tindakan medis berteknologi tinggi berupa operasi transplantasi ginjal bagi pasien gagal ginjal kronis juga tidak terlepas dari dukungan penuh dari Gubernur Aceh terhadap transformasi dan peningkatan mutu layanan kesehatan di Bumi Serambi Mekkah.

“Gubernur Aceh memberikan perhatian khusus agar RSUDZA mampu menghadirkan layanan kesehatan subspesialistik yang mandiri dan berkualitas tinggi. Dukungan tersebut  melalui penguatan fasilitas infrastruktur medis modern, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kebijakan strategis yang mempermudah akses masyarakat terhadap layanan kesehatan rujukan tingkat lanjut,” katanya.

Adapun tujuh pasien yang telah sukses menjalani prosedur pencangkokan ginjal dengan melibatkan pendonor dari pihak keluarga terdekat, di antaranya Yanes Repelita (didampingi pendonor Zuliman) yang menjalani operasi pada 1 Agustus 2016, Handriyani (didampingi pendonor Liliyani) yang sukses menjalani prosedur pada 1 Agustus 2017.

Selanjutnya Muharuddin (didampingi pendonor Sri Muliana) yang ditangani pada 9 Juli 2018, Sholahuddin Ritonga bersama pendonor Yulis Ratna Sari pada 29 Juli 2019, Darul Aman bersama pendonor Kahfi Ilman pada 9 Maret 2020, Iswahyudi bersama pendonor Roslinda pada 21 Desember 2025 dan Muhammad Ikhlas bersama pendonor Intan Zahara pada 3 Agustus 2026.

Ia menambahkan keberhasilan serangkaian tindakan medis kompleks tersebut juga tidak terlepas dari kesiapan tim dokter spesialis dan subspesialis nefrologi, urologi, anestesi, serta tenaga medis profesional dan terlatih di RSUDZA yang terus berinovasi memberikan pelayanan terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *