Dana IndonesiaRaya dinilai mampu perkuat ekonomi lokal lewat kebudayaan

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Produser Film di Aceh sekaligus Direktur Utama PT Pembangunan Aceh (Perseroda) Faisal Ilyas menilai program Dana IndonesiaRaya Kementerian Kebudayaan dapat membantu pertumbuhan ekonomi daerah lewat kegiatan budaya.

“Skala programnya juga membuka jalan bagi pengembangan event ekonomi di daerah,” kata Faisal Ilyas di Banda Aceh, Rabu.

Faisal mengatakan kebudayaan perlahan lepas dari stigma sebagai sektor penghabis anggaran. Festival, film, musik, kriya, hingga karya digital kini terbukti memutar roda ekonomi, membuka lapangan kerja, dan melahirkan aset kreatif baru.

Dana IndonesiaRaya merupakan skema pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan yang sebelumnya bernama Dana Indonesiana. Berdasarkan catatan Kementerian Kebudayaan, minat terhadap skema ini melonjak 2026.

Tahun ini, kata dia, Kementerian Kebudayaan menerima lebih dari 15 ribu proposal masuk untuk mendapatkan dukungan program tersebut.

Bacaan Lainnya

“Tingginya peminat memperlihatkan besarnya kebutuhan pendanaan di tingkat akar rumput mulai dari seniman, penggiat kebudayaan, komunitas dan sanggar, hingga lembaga serta pelaku industri kreatif berbasis budaya di berbagai daerah,” ujarnya.

Founder Aceh Documentary Foundation ini menyampaikan, pada 2022 tercatat sekitar 311 penerima dana IndonesiaRaya. Sempat turun menjadi 263 pada 2023, namun kembali naik pada 2024 menjadi 346 penerima.

Pada 2025, naik pesat menjadi 2.117 penerima. Hingga 31 Maret 2026, pemerintah mencatat sekitar 3.036 penerima dengan dana yang tersalurkan sekitar Rp594 miliar.

Untuk skala Provinsi Aceh, Faisal mengatakan tahun ini terdapat sebanyak 224 penerima dengan dukungan anggaran mencapai Rp Rp17,4 miliar.

Di balik deretan angka itu, Faisal  mengajak publik harus melihat kegiatan budaya secara lebih utuh. Karena, setiap kegiatan punya rantai ekonomi panjang di belakangnya, dan hal ini sering luput dari perhatian.

Menurutnya, sebuah festival budaya tidak hanya membayar seniman. Di dalamnya terdapat pekerja panggung, penyedia tata suara dan cahaya, videografer, desainer, percetakan, transportasi, penginapan, konsumsi, UMKM, penyedia souvenir hingga pekerja informal di sekitar lokasi kegiatan.

Ia menyebutkan, berdasarkan data Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) hingga 30 April 2025 menunjukkan Dana Abadi Kebudayaan telah mendukung 757 program atau event publik.

Program itu melibatkan sekitar 25.848 pelaku budaya, 10.346 komunitas, dan 15.106 tenaga teknis, serta menjangkau lebih dari 1,3 juta pengunjung.

Faisal menilai, dampak jangka panjangnya justru ada pada karya dan kekayaan intelektual. Hingga April 2025, program ini mendorong lahirnya sedikitnya 384 karya baru, mulai dari buku, film, tari, hingga karya berbasis teknologi informasi.

“Sebanyak 118 kekayaan intelektual telah didaftarkan, sementara 236 program peningkatan kapasitas diikuti lebih dari 6.868 peserta,” katanya.

Karena itu, Dana IndonesiaRaya dinilai strategis sebagai sumber pembiayaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada APBD tahunan. Meski demikian, ia juga mendorong pemerintah untuk mengukur dampak kegiatan kebudayaan secara terukur.

Indikatornya, meliputi lapangan kerja yang tercipta, transaksi UMKM, pengunjung dari luar daerah, karya yang masuk pasar, IP yang menghasilkan royalti, hingga investasi lanjutan.

“Jika mata rantai itu terbangun, ukuran keberhasilan Dana IndonesiaRaya tak lagi soal banyaknya dana atau proposal. Yang lebih penting adalah nilai ekonomi, pekerjaan, karya, dan kekayaan intelektual baru terus tumbuh,” demikian Faisal Ilyas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *