Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kepala UPTD Museum Aceh, Arif Arham, menyambut baik keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan konservasi dan restorasi naskah kuno yang digelar di Aula Museum Aceh, kemarin. Menurutnya, partisipasi aktif generasi muda, menjadi langkah penting dalam menumbuhkan kesadaran terhadap pelestarian warisan literasi Aceh.
“Kami senang melihat semangat mahasiswa dalam belajar konservasi dan restorasi naskah. Ini menunjukkan masih ada generasi yang peduli pada warisan pengetahuan,” kata Arif di Banda Aceh.
Menurutnya, bidang konservasi memiliki prospek karier yang luas, baik di dalam maupun luar negeri. Profesi konservator di luar negeri sangat dibutuhkan dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Jika ada mahasiswa yang serius menekuni bidang ini, peluangnya terbuka lebar,” kata dia.
Sebanyak 80 mahasiswa Program Studi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengikuti praktik konservasi tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Pelestarian Koleksi di Era Digital, yang bertujuan melatih kemampuan teknis mahasiswa dalam menjaga warisan literasi masa lampau.
Ketua Prodi Ilmu Perpustakaan FAH UIN Ar-Raniry, Mukhtaruddin, mengatakan praktik di Museum Aceh sudah menjadi agenda tahunan hasil kerja sama antara kedua lembaga. Setiap tahun pihaknya melaksanakan praktik pelestarian koleksi di Museum Aceh.
“Ini bagian penting dari pembelajaran, karena mahasiswa bisa belajar langsung bagaimana merawat manuskrip yang usianya ratusan tahun,” jelasnya.
Mukhtaruddin menegaskan, kegiatan ini memberikan pengalaman nyata yang tidak bisa diperoleh hanya dari teori di ruang kuliah. Mahasiswa perlu memahami karakter kertas, tinta, serta cara penanganan manuskrip agar tidak rusak.
“Keterampilan ini sangat berharga bagi mereka yang ingin menekuni bidang pelestarian naskah,”ujarnya.
Ia juga menilai kegiatan ini menjadi refleksi penting di tengah era digitalisasi yang kian pesat. Merawat naskah kuno bukan hanya menjaga benda tua, tetapi juga menjaga ingatan kolektif dan identitas intelektual Aceh.
Dalam praktik tersebut, mahasiswa dibimbing langsung oleh tim konservator dan pustakawan Museum Aceh, yakni Erni Mahdalena, (Kasi Preparasi dan Konservasi), Nurhasanah, (Kasi Koleksi dan Bimbingan Edukasi), Zurny, (Pustakawan Ahli Muda), Rahmi Novianti, serta Ahmad Nuhdi Rufky.
Para instruktur memperkenalkan berbagai tahapan restorasi, mulai dari pembersihan kertas, perbaikan serat yang rusak, hingga penyimpanan manuskrip dalam kondisi lembap terkendali.
Salah satu naskah yang digunakan sebagai bahan praktik adalah manuskrip beraksara Arab-Melayu peninggalan ulama Aceh abad ke-18, yang menjadi bukti kekayaan literasi Islam di masa lampau.***







