Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Pemerintah Jepang kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung upaya penanggulangan dan pemulihan bencana di Aceh dengan memberikan bantuan dana hibah melalui program Grant Assistance for Grassroots Human Security Projects.
Penandatanganan kontrak bantuan hibah tersebut dilakukan oleh Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Toru, dan Ketua Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, Prof. Dr. Djufri, di SMAS Labschool Syiah Kuala, Kopelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, Kamis (12/3/2026).
Dalam kerja sama tersebut, Pemerintah Jepang menyalurkan dana hibah sebesar 452.357 dolar AS atau sekitar Rp7,6 miliar untuk pengadaan alat berat pembersih lahan yang akan digunakan dalam upaya pemulihan pasca bencana di Provinsi Aceh.
Melalui program tersebut, Jepang akan memberikan delapan unit alat berat yang terdiri dari empat unit ekskavator dan empat unit truk kepada Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala.
Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Toru, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat Jepang terhadap masyarakat Aceh yang kerap menghadapi bencana alam.
“Bantuan Hibah ini merupakan bentuk kerja sama, dukungan, dan kepedulian dari masyarakat Jepang kepada masyarakat Indonesia. Kami berharap alat berat pembersih lahan yang kami hibahkan dapat berkontribusi pada pemulihan secepat mungkin saat bencana alam terjadi di Provinsi Aceh,” kata Furugori.
Ia menjelaskan, Provinsi Aceh termasuk wilayah yang rawan bencana seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor. Kondisi tersebut sering menyebabkan rumah warga terendam air, penumpukan material tanah, hingga kerusakan jalan dan jembatan.
Karena itu, keberadaan alat berat dinilai sangat penting untuk mempercepat proses pembersihan lahan dan membuka akses wilayah yang terdampak bencana.
Lebih lanjut, Furugori juga mengingatkan bahwa Jepang memiliki kedekatan sejarah dengan Aceh dalam hal penanggulangan bencana, terutama setelah terjadinya gempa bumi dan tsunami dahsyat pada Desember 2004 silam.
Sejak saat itu, Jepang telah menyalurkan berbagai bantuan untuk pemulihan Aceh, mulai dari rekonstruksi perumahan, pembangunan gedung sekolah, hingga pembangunan infrastruktur dasar.
“Sampai saat ini, kami juga terus melaksanakan upaya pencegahan bencana di Provinsi Aceh melalui program Bantuan Hibah Grassroots untuk Keamanan Manusia. Sebagai proyek terbaru, kami membangun Pusat Edukasi Tsunami di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, dan meresmikannya pada bulan Desember 2024,” jelasnya.
Melalui berbagai program tersebut, Pemerintah Jepang berharap kerja sama dengan Indonesia, khususnya Aceh, dapat terus diperkuat sekaligus membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar di berbagai sektor seperti kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan.
“Bantuan Grassroots dari Pemerintah Jepang kepada masyarakat Indonesia bertujuan untuk mengatasi permasalahan kebutuhan dasar manusia di berbagai bidang termasuk kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan sehingga hubungan persahabatan dan kerja sama Jepang dan Indonesia akan makin erat ke depannya,” pungkasnya.







