Hari santri, Kemenag Aceh Besar tonjolkan peran kepemimpinan perempuan

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kantor Kemenag Kabupaten Aceh Besar mengangkat peran perempuan dengan menempatkan mereka sebagai petugas memimpin upacara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Pesantren Modern Al Manar, Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

“Segala persiapan upacara HSN ini semua disiapkan santriwati. Mereka latihan siang malam, baik paskibra, aubade, komandan, dan unsur lainnya,” kata Kepala Kemenag Aceh Besar, Saifuddin saat menjadi inspektur upacara.

Para srikandi pesantren itu mengemban berbagai tugas, mulai dari pemimpin upacara, pasukan pengibar bendera, aubade, komandan barisan, pembaca teks, hingga pembaca doa.

Saifuddin mengatakan, keterlibatan santriwati dalam seluruh posisi petugas upacara menunjukkan kapasitas perempuan dalam menjalankan peran kepemimpinan.

“Ini membuktikan bahwa santri putri memiliki keterampilan kepemimpinan yang setara dalam momentum nasional,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, keterlibatan perempuan tersebut menjadi gambaran pentingnya memberikan ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.

“Ini adalah bentuk kesetaraan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Apalagi mereka semua santriwati, penerus masa depan,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Saifuddin turut membacakan sambutan Menteri Agama KH Nasaruddin Umar yang menekankan pentingnya menempatkan hari santri sebagai momentum untuk merawat ingatan sejarah sekaligus memperkuat kontribusi santri bagi masa depan Indonesia.

Ia mengatakan, hari santri diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan.

“Sejarah mencatat, resolusi jihad yang dimaklumatkan Hadratussyekh Kiai Haji Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 telah membangkitkan semangat perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.

Peringatan HSN 2026 mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. Tema ini mengandung pesan penting bahwa santri memiliki tanggung jawab besar dalam menentukan masa depan bangsa.

Dahulu, lanjut Saifuddin, santri menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka santri sekarang harus menguatkan negeri dengan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, dan tentu saja akhlak mulia.

“Tantangan zaman memang berubah, tetapi semangat pengabdian kepada negeri tercinta ini, bagi seorang santri, tidak boleh padam,” demikian Saifuddin.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *