Pembangunan 110 unit hunian tetap di Pidie Jaya Aceh capai 10 persen

Pidie Jaya|BidikIndonesia.com –  Project Manager PT Polada Mutiara Aceh Muhammad Nur Hadi mengatakan pengerjaan 110 unit hunian tetap (huntap) penyintas bencana hidrometeorologi di Desa Pohroh, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya telah mencapai sepuluh persen.

“Pelaksanaan pembangunan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari perakitan tulangan besi, pencetakan komponen beton, hingga pemasangan komponen struktur pada lokasi pembangunan,” kata Muhammad Nur Hadi di Pidie Jaya.

Ia menjelaskan, pembangunan hunian tersebut berada di bawah Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) dan bangunan tersebut menggunakan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA) untuk menyediakan tempat tinggal yang layak dan aman bagi masyarakat terdampak bencana.

Muhammad Nur Hadi mengatakan material besi yang dibutuhkan telah tersedia, sedangkan pekerjaan dilakukan oleh tim yang menangani perakitan besi, pengecoran, dan pemasangan struktur.

Saat ini, pekerjaan didukung sekitar 30 hingga 40 pekerja, dengan rencana penambahan tenaga kerja untuk mempercepat penyelesaian pembangunan.

Bacaan Lainnya

“Pekerjaan dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pembesian, pengecoran, hingga pemasangan. Kami juga berupaya mempercepat pengerjaan dengan menambah tim agar pekerjaan bisa berjalan lebih optimal,” katanya menambahkan.

Namun, pelaksanaan pembangunan menghadapi tantangan kondisi lahan yang berbukit. Kondisi tersebut membuat pekerjaan tidak dapat dilakukan sekaligus pada seluruh bagian, sehingga tim harus menyesuaikan tahapan konstruksi dengan kondisi permukaan tanah dan kesiapan setiap bagian bangunan.

Menurutnya, konstruksi huntap menggunakan spesifikasi teknis yang mengacu pada standar pekerjaan umum, termasuk penggunaan beton dengan mutu K-300. Sistem bangunan dirancang dengan memperhatikan kekuatan struktur untuk meningkatkan ketahanan terhadap guncangan gempa.

Ia menjelaskan, konsep rumah tahan gempa mengutamakan kekuatan struktur bangunan agar dapat merespons guncangan sesuai rancangan teknisnya. Meski demikian, ketahanan bangunan tetap bergantung pada kesesuaian pelaksanaan konstruksi dengan spesifikasi dan standar yang telah ditetapkan.

Pembangunan huntap tersebut merupakan bagian dari rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi di Aceh.

Pihaknya berharap dengan penyediaan hunian tetap tersebut  dapat membantu penyintas memperoleh tempat tinggal yang lebih aman sekaligus mendukung pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah terdampak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *