Biaya Kapal Sewa Membengkak, Distributor Usul HET LPG 3 Kg Sabang Naik Jadi Rp30 Ribu

Sabang|BidikIndonesia.com– Pihak distributor LPG bersubsidi di Kota Sabang resmi mengusulkan penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) tabung gas melon 3 kilogram. Harga yang semula dipatok Rp27.000 diusulkan naik menjadi Rp30.000 per tabung. Langkah ini diambil menyusul melonjaknya biaya operasional pasca-insiden transportasi laut, yang memaksa distributor beralih menggunakan kapal sewaan untuk menyeberang ke Pulau Weh, Sabang.

Pemilik PT Gas Aneuk Meugah Sabang, Munazar Ismail atau yang akrab disapa Toke Cicik, menjelaskan bahwa penggunaan kapal sewaan menimbulkan konsekuensi biaya tambahan yang sangat tinggi. Selain tarif sewa kapal dari operator yang langsung merangkak naik setelah pelayaran perdana, tingginya biaya bongkar muat di Pelabuhan Ulee Lheue juga ikut membebani struktur operasional mereka.

Oleh karena itu, penyesuaian HET sementara senilai Rp3.000 tersebut diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek yang disetujui oleh pemerintah daerah.

“Kami berharap ada perhatian dan kebijakan khusus dari Pemko Sabang terkait kondisi ini. Harapan kami ada penyesuaian HET sementara dari Rp27.000 menjadi Rp30.000, sambil menunggu satu kapal kami selesai menjalani proses docking (perbaikan). Tujuannya murni untuk menutupi sebagian biaya transportasi sewaan,” ujar Toke Cicik dalam keterangannya, Kamis 11 Juni 2026.

Pihak distributor memperkirakan skema distribusi darurat menggunakan kapal sewaan ini akan berjalan selama kurang lebih satu bulan ke depan. Meski didera pembengkakan biaya, pemenuhan pasokan gas untuk masyarakat Sabang tetap menjadi prioritas utama.

Bacaan Lainnya

Sebagai komitmen awal, pasokan LPG yang berhasil tiba dan disalurkan di Sabang pada Kamis (11/6/2026) mencapai 1.680 tabung gas 3 kilogram. Jumlah ini merupakan akumulasi dari jatah distribusi yang sempat tertunda sejak Senin hingga Rabu akibat kendala armada laut.

Toke Cicik juga meminta warga Pulau Weh untuk tidak panik, karena usulan kenaikan harga ini bersifat sementara dan wajib melalui mekanisme kajian resmi.

“Kebijakan penyesuaian ini seperti yang pernah kita lakukan bersama pada saat musibah banjir di Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Pidie Jaya dulu. Tentu semuanya harus melalui persetujuan Pemko Sabang dan unsur Muspida setempat,” tambahnya,” harapnya.

Menanggapi wacana penyesuaian harga tersebut, respons tenang justru datang dari masyarakat konsumen di Sabang. Mengingat kondisi geografis Sabang sebagai daerah kepulauan dan tantangan berat yang dihadapi, warga mengaku tidak keberatan dengan adanya kenaikan harga.

Salah seorang warga Sabang Cek Pok Cit menyatakan kepastian pasokan gas LPG jauh lebih berharga bagi masyarakat kecil dibanding memperdebatkan nominal kenaikan Harga.

“Bagi kami di Sabang, HET menjadi Rp35.000 pun sebenarnya tidak masalah. Yang paling penting bagi masyarakat adalah gas selalu tersedia, distribusinya lancar, dan tidak terjadi kelangkaan di pasar,” tutur Cek Pok Cit terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *