Banda Aceh|BidikIndonesia.com– Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Aceh mencatat pertumbuhan ekonomi Aceh hingga triwulan II 2026 mengalami kenaikan, kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi.
“Perekonomian Aceh triwulan I dan II 2026 alhamdulillah tumbuh masing-masing 4,09 persen dan 4,86 persen. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana,” kata Plh Kepala KPwBI Aceh, Hertha Bastiawan, di Banda Aceh, Rabu
Pernyataan itu disampaikan Hertha Bastiawan dalam kegiatan Aceh Economic Forum (AEF) Agustus 2026 dengan tema “Percepatan progres Rehabilitasi dan Rekonstruksi Lahan Pertanian untuk Pertumbuhan Ekonomi Aceh yang Terakselerasi, di aula kantor KPwBI Aceh, Banda Aceh.
Hertha mengatakan, tema tersebut dipilih karena mempertimbangkan peran sektor pertanian yang besar terhadap perekonomian Aceh. Di mana, kontribusinya sebesar 31,16 dari produk domestik regional bruto (PDRB) Aceh.
Kemudian, pada triwulan II tahun 2026 ini, sektor pertanian juga mengalami pertumbuhan sebesar 3,98 persen secara year-on-year (tahun ke tahun) atau terakselerasi dibanding triwulan I sebelumnya sebesar 0,35 persen (year-on-year).
Secara umum, Hertha menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Aceh hingga triwulan II 2026 mencapai 4,86 persen, lebih tinggi dibandingkan triwulan I sebesar 4,09 persen.
Pertumbuhan ini, kata dia, utamanya didorong oleh lapangan usaha pertanian, perdagangan dan konstruksi yang sejalan dengan upaya percepatan proses pemulihan pascabencana hidrometeorologi.
“Jika dibandingkan dengan daerah lain yang mengalami bencana serupa, pertumbuhan ekonomi Aceh lebih tinggi dibandingkan Sumatera Barat sekitar 4,54 persen. Tetapi, lebih rendah dari Sumatera Utara yang mampu tumbuh 5,06 persen,” ujarnya.
Dirinya menegaskan, KPwBI Aceh memprediksikan pertumbuhan ekonomi Aceh di 2026 bakal terus membaik dibandingkan 2025, karena bakal didorong oleh percepatan rekonstruksi dan rehabilitasi bencana, serta perluasan implementasi program prioritas pemerintah pusat di Aceh.
Namun, pertumbuhannya juga memiliki beberapa tantangan akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang masih belum selesai, dan diperkirakan masih berlangsung lama, kondisi ini berdampak terhadap kebijakan negara-negara maju, sehingga bisa mempengaruhi kinerja ekspor produk unggulan Aceh.
“Mencermati faktor pendorong maupun risiko pertumbuhan sebagaimana penjelasan sebelumnya, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Aceh di tahun 2026 akan berada pada kisaran 4,6 persen sampai 5,1 persen,” tegas Hertha.
Selain itu, Hertha juga menuturkan, dari sisi perkembangan inflasi pada Juli 2026, secara bulanan Aceh mencatat inflasi sebesar 0,24 persen, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya 0,56 persen.
Tekanan inflasi ini berasal dari komoditas kelompok makanan dan minuman, utamanya adalah beras, cabai, rawit, dan juga tomat. Hal ini, dipengaruhi belum masuknya masa panen serta dipengaruhi kondisi cuaca panas.
Kemudian, komoditas bensin juga mengalami inflasi yang dipengaruhi oleh penyesuaian tarif BBM jenis Pertamax yang dilakukan oleh pemerintah.
Lebih lanjut, komoditas semen kali ini juga menyumbang inflasi karena meningkatnya permintaan untuk kebutuhan rekonstruksi pasca bencana, termasuk untuk pembangunan hunian tetap serta akselerasi program strategis nasional.
Jika dilihat tahunan, inflasi Aceh memang masih tinggi, yaitu di 5,38 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 2,88 persen, dengan komoditas penyumbang inflasi tahunan utama adalah nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, cabe, merah, dan bensin.
Maka dari itu, Bank Indonesia Aceh akan senantiasa terus m menjalin sinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh stakeholder dalam upaya pemulihan ekonomi pascabencana, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hingga pengendalian inflasi.
“Mari bersama-sama untuk saling membantu mendorong perekonomian Aceh agar lebih cepat pulih, makmur, dan sejahtera,” demikian Hertha Bastiawan.
