Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Pemko Banda Aceh melanjutkan kerja sama sister city antara Banda Aceh dan Kota Higashimatsushima, Prefektur Miyagi, Jepang. Hal itu dikatakan Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal saat memimpin rapat daring dengan stakeholder pemerintah Higashimatsushima, Senin, 19 Januari 2026.
Kerja sama tersebut berfokus pada pemberdayaan ekonomi masyarakat antara kedua kota kembar, program ini merupakan rintisan Illiza sedari 2014 silam. Kala itu, kedua unsur pemerintahan kota telah menandatangani MoU kerja sama.
Menurut Illiza, kedua kota yang secara geografis berjauhan, disatukan oleh musibah tsunami, nilai kemanusiaan, serta komitmen untuk membangun kota yang lebih tangguh dan mandiri.
Latar belakang kerja sama sister city bertujuan memperkuat hubungan antarpemerintah kota lintas negara melalui pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, promosi ekonomi. Selain itu, pemahaman budaya untuk mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.
“Program sister city diharapkan menjadi instrumen strategis dalam mempercepat pembangunan daerah, memperluas jejaring nasional, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang salah satunya melalui pembudidayaan tiram,” ujar Illiza dikutip dari Laman Pemko Banda Aceh, Rabu, 21 Januari 2026.
Dia juga menyebut kerja sama itu didukung penuh pemerintah pusat melalui kementerian terkait.
“Banda Aceh sudah mendapat izin dari Pemerintah Aceh untuk berkolaborasi dengan Higashimatsushima, termasuk mengoptimalkan keberadaan Banda Aceh Academy dalam waktu tidak lama lagi.”
Sekilas Higashimatsushima
Higashimatsushima menjadi salah satu kota di Miyagi yang dihantam tsunami pada 11 Maret 2011. Gelombang setinggi lebih dari 10 meter menghantam bagian utara Jepang itu usai gempa 9.0 magnitudo mengguncang Samudra Pasifik dengan episentrum sekitar 129 kilometer di timur Miyagi.
Sebanyak 1.109 orang meninggal dan 24 orang hilang. “Sekitar 65 persen dari wilayah kota terendam air akibat tsunami,” ujar Takafumi Kawaguchi, Kepala Rekonstruksi Bencana Higashi Matsushima, April 2019.
Sebulan pascatsunami, kota seluas 101,86 kilometer persegi (sebagai perbandingan: Banda Aceh 1,36 kilometer persegi) tersebut ditata ulang dengan berbasis mitigasi bencana.
Pada Desember 2011, pemerintah menetapkan kebijakan rekonstruksi bencana untuk pembangunan Higashimatsushima selama 10 tahun atau hingga 2020. Perumusan rekonstruksi tersebut melibatkan 2.000 warga setempat dengan memfokuskan pada kebijakan dasar, bidang kajian, dan wilayah terdampak. Rencana tata ruang disusun ulang dengan berorientasi pada mitigasi bencana.
Melansir Japan Travel, setelah pulih dari bencana, Higashimatsushima yang terletak di antara pegunungan dan laut, kini mengembangkan ekowisata untuk memanfaatkan daya tarik keunikan wilayah tersebut.
Higashimatsushima memiliki sejarah panjang, dengan banyak peninggalan dari periode Jomon (10.000 hingga 300 Sebelum Masehi) ketika para pemburu-pengumpul pertama menetap di sana.[]







