Aceh Tamiang mulai tanam padi perdana pascabencana

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kabupaten Aceh Tamiang kembali mulai melaksanakan gerakan tanam benih perdana pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025 lalu, penanaman ini terlaksana pada lahan yang telah direhabilitasi serta optimasi persawahan setempat.

“Penanaman ini menjadi simbol kebangkitan sektor pertanian Aceh pascabencana alam yang merusak puluhan ribu hektare lahan warga,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh M Nasir dalam keterangannya, di Banda Aceh, Senin.

Gerakan penanaman padi perdana pascabencana yang diresmikan Sekda Aceh M Nasir bersama Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi tersebut terpusat di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

M Nasir mengatakan, bencana hidrometeorologi telah memberikan dampak luar biasa di Aceh. Tercatat, areal persawahan yang terdampak mencapai 57.364 hektare, sementara sektor perkebunan terdampak luasnya mencapai 60.438 hektare.

Dan, Kabupaten Aceh Tamiang menjadi salah satu wilayah dengan kerusakan terparah akibat banjir bandang yang membawa lumpur serta material lainnya (sekitar 2.673 hektare lahan pertanian rusak).

Bacaan Lainnya

Sebagai informasi, pada tahapan awal, Kementan membantu rehabilitasi sawah di Aceh Tamiang seluas 712 hektare, progres hingga Juni
telah mencapai 702,45 hektare atau 90 persen. Sedangkan optimalisasi lahan (oplah) nya telah terealisasi seluas 1.032,46 hektare, dari total target 1.961 hektare.

“Tanam perdana hari ini bukan sekedar rutinitas menaburkan benih, melainkan simbol bahwa petani kita tetap kuat, semangat, dan optimis dalam menjaga pasokan pangan di Aceh tetap aman,” ujar M Nasir.

Ia menegaskan, pemerintah Aceh menempatkan rehabilitasi dan optimasi lahan sawah di lokasi bencana sebagai prioritas utama guna memulihkan roda perekonomian masyarakat.

“Saat ini, sebagian besar lahan sawah yang rusak telah selesai diperbaiki dan mulai bisa dimanfaatkan kembali oleh masyarakat petani Aceh,” katanya.

M Nasir mengimbau para petani untuk mengoptimalkan musim tanam ini dengan tetap memperhatikan kondisi alam, meningkatkan gotong royong, dan mengikuti arahan pemangku adat setempat.

Selain itu, dirinya menuturkan bahwa progres program optimalisasi lahan terdampak bencana saat ini telah mencapai 32 persen. Proyek strategis ini mencakup konstruksi optimalisasi lahan bencana yang tersebar di 18 kabupaten/kota se-Aceh.

Tak hanya perbaikan persawahan, lanjut dia, intervensi Kementan bersama pemerintah Aceh juga menyasar infrastruktur penunjang pertanian di daerah terdampak bencana.

Diantaranya pembangunan dan perbaikan sistem irigasi pemompaan, irigasi perpipaan, bangunan Konservasi, jaringan irigasi tersier serta rehabilitasi Jalan Usaha Tani (JUT) guna memastikan akses distribusi logistik para petani kembali lancar.

“Melalui kolaborasi intensif ini, pemerintah Aceh optimis puluhan ribu hektare lahan yang sempat rusak akibat banjir lumpur dapat segera berfungsi optimal demi kesejahteraan masyarakat petani,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Sekda Aceh mengapresiasi Kementerian Pertanian (Kementan) atas dukungan penuh dalam memfasilitasi pemulihan sektor pertanian dan perkebunan di Aceh pascabencana. Sinergi ini dapat menjaga stabilitas dan pasokan pangan di Aceh tetap aman dan mandiri.

“Kami berterima kasih kepada Menteri Pertanian dan seluruh jajaran Kementan yang bergerak cepat membantu petani kita. Pemulihan ini menjadi prioritas utama agar roda perekonomian masyarakat kembali normal,” demikian M Nasir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *