REFLEKSI GERAKAN PKBI DALAM MENDUKUNG HKSR DI ACEH

Aceh|BidikIndonesia.com – Tidak terasa sudah sampai di akhir tahun 2025. Banyak hal yang sudah dilalui dengan organisasi tercinta. Pencapaian, tantangan, dukungan dan hambatan yang terjadi berproses terhadap pendewasaan organisasi PKBI khususnya di Aceh. Hari ini tepat 23 Desember usia PKBI memasuki umur ke 68.

HUT PKBI ke 68 kali ini dibalut dengan acara refleksi gerakan PKBI dalam mendukung hak kesehatan seksual dan reproduksi. Refleksi pencapaian satu tahun PKBI Aceh di sampaikan oleh ketua Pengurus Daerah PKBI Aceh bapak dr. Abdul Fatah, MPPM dan penanggap ibu Safrina Salim/kepala kantor Kemendukbangga/BKKBN Aceh. Ketua PD menyampaikan capaian 1 tahun PKBI Aceh telah melakukan (1) open recruitmen remaja CMPP/Centra Muda Putroe Phang, yang ditindak lanjuti dengan meet and great relawan remaja (2) grand desaign remaja PKBI (3) Memeriahkan HUT RI dengan aneka lomba untuk relawan PKBI (4) International Youth Day, dengan membuat kegiatan bersama komunitas anak muda di StadionHarapan Bangsa (5) program ECCD melalui kegiatan : mobile clinic, layanan kontrasepsi, workshop/desiminasi/seminar dan telekonseling.

Program ECCD mendapat support dari IPPF/International Planned Parenthood Federation (6) Penguatan PKPR bagi petugas puskesmas dan UKS sekolah/dayah. Kegiatan ini di support oleh UNICEF. Adapun yang menjadi titik lokasi intervensi adalah kec Banda RayaKota Banda Aceh, dan Aceh Besar meliputi kecamatan Ingin Jaya dan Darul Kamal. (7) Respon bencana. Dalam respon bencana, PKBI Aceh mendapat dukungan donasi dari individu, organisasi/paguyuban, Penabulu dan IPPF.

Dukungan yang diberikan dalam respon bencana adalah distribusi kit kespro bagi bayi, anak, remaja perempuan dan laki-laki serta layanan mobile bencana. Adapun yang menjadi titik intervensi adalah Kab. Pidie, kab. Pidie Jaya dan Singkil. Semua pencapaian diatas tidak lah berjalan dengan mulus, ada tantangan dan dukunganyang menjadi dinamika dalam berorganisasi. Sehingga menjadi pembelajaran bersama dalam menyusun strategi untuk yang akan datang yaitu (1) membangun sinergisitas dengan berbagai stakeholder (2) update terhadap perkembangan kekinian (3) publikasi aktifitas organisasi melalui media sosial. Semua yang menjadi praktik baik harus terus beradaptasi dengan perkembangan zaman dan issue kekinian. HKSR bukanlah sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, namun menjadi issue kebutuhan untuk setiap siklus kehidupan yang berjalan.

Dalam tanggapan yang disampaikan oleh kepala kantor Kemendukbangga/BKKBN Aceh, bahwa PKBI terus konsentrasi dan mengambil peran strategis dalam pemenuhan HKSR. Dengan meningkatnyua angka stunting yang signifikan, kekerasan seksual, fatherless, dan berkurangnya nilai/norma yang diajarkan kepada anak. Kampanye kontrasepsi bukanlah seperti semangat slogan yang dulu namun terus bertransformasiuntuk mendukung masalah kependudukan yang terus berkembang. Kemendukbangga/BKKBN Aceh juga mempunyai program strategis diantaranya GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), SIDAYA (Lansia Berdaya).

Bacaan Lainnya

Harapannya, mudah-mudahan  Kemendukbangga/BKKBN Aceh bisa terus berkolaborasi dengan PKBI Aceh untuk mendukung pemenuhan HKSR di setiap siklus kehidupan. Adanya kerjasama dalam layanan kontrasepsi bagi kelompok rentan serta edukasi bagi anak muda terhadap issue kesehatan reproduksi.

Pada acara refleksi tersebut, turut berhadir pengurus daerahPKBI, staf dan stakeholder pemerintah Aceh, puskesmas yang menjadi mitra program, CSO ( JIP, Posbakum Aisyiyah, YPANBA), organisasi profesi (IBI Aceh), dan turut berhadir dari PKBI Cabang Aceh Besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *