Oleh: Dr. Tgk. Nanda Saputra, M.Pd.
Muktamar Nahdlatul Ulama bukan hanya forum pergantian kepemimpinan. Muktamar merupakan momentum bagi seluruh warga nahdliyin untuk menentukan arah perjalanan organisasi pada masa mendatang. Karena itu, pembicaraan mengenai calon pemimpin PBNU semestinya tidak berhenti pada persoalan kedekatan, popularitas, ataupun kekuatan jaringan. Hal yang lebih penting ialah kemampuan seorang calon dalam membaca perubahan zaman sekaligus menjaga identitas dan khidmah Nahdlatul Ulama.
NU sedang berhadapan dengan dunia yang bergerak sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan pola pendidikan, menguatnya politik identitas, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, serta konflik antarnegara membutuhkan respons keagamaan yang matang. NU tidak cukup hanya menjadi organisasi besar secara jumlah. Kebesaran itu harus diterjemahkan menjadi kekuatan ilmu, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, dan diplomasi kemanusiaan.
Dalam konteks tersebut, nama Prof. KH Nasaruddin Umar patut dipertimbangkan sebagai salah satu figur yang memiliki kapasitas untuk membawa NU memasuki babak baru. Ia memiliki latar belakang pesantren, kedalaman keilmuan Islam, pengalaman akademik, kemampuan membangun dialog, serta pengalaman menjalankan tugas dalam pemerintahan.
Namun, alasan untuk mempertimbangkan Nasaruddin Umar tidak semestinya hanya didasarkan pada panjangnya daftar jabatan yang pernah diemban. Hal yang lebih utama adalah adanya pertemuan antara tradisi keulamaan, kecendekiawanan, pengalaman birokrasi, dan kemampuan berdialog dengan dunia internasional dalam dirinya.
Menjaga Pesantren, Membaca Perubahan
Nahdlatul Ulama lahir dari rahim pesantren. Karena itu, siapa pun yang memimpin NU harus memahami bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan tradisional. Pesantren merupakan pusat transmisi keilmuan, pembentukan akhlak, penguatan spiritualitas, serta penjaga kesinambungan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah.
Akan tetapi, menjaga pesantren tidak berarti menutup diri dari perubahan. Tradisi yang kuat justru harus menjadi fondasi untuk menghadapi perkembangan zaman. Pesantren harus diperkuat agar mampu melahirkan ahli agama yang mendalam sekaligus memahami ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, lingkungan, dan persoalan kemanusiaan kontemporer.
Nasaruddin Umar tumbuh dalam lingkungan pendidikan Islam dan kemudian menempuh perjalanan akademik hingga menjadi guru besar dalam bidang tafsir. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi pesantren dan pendidikan modern tidak perlu dipertentangkan. Keduanya dapat dipertemukan untuk membangun corak keislaman yang berakar kuat, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan pengetahuan.
Cara pandang semacam ini penting bagi NU. Organisasi sebesar NU membutuhkan pemimpin yang tidak menjadikan tradisi sebagai benda mati, tetapi menghidupkannya sebagai sumber nilai untuk menjawab persoalan baru. Kitab kuning harus terus dipelajari, tetapi pembacaan terhadap realitas sosial juga harus diperkuat. Santri harus memiliki keteguhan akidah dan akhlak, sekaligus kecakapan menghadapi dunia digital.
Dari Organisasi Massa Menuju Kekuatan Peradaban
Jumlah warga NU merupakan modal sosial yang sangat besar. Akan tetapi, jumlah yang besar tidak otomatis melahirkan kemandirian. Masih banyak warga nahdliyin yang menghadapi persoalan kemiskinan, keterbatasan pendidikan, lemahnya akses terhadap teknologi, dan rendahnya daya saing ekonomi.
Karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus mampu mengubah kekuatan massa menjadi kekuatan peradaban. NU harus hadir dalam kehidupan masyarakat bukan hanya melalui pengajian dan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui sekolah yang bermutu, perguruan tinggi yang unggul, rumah sakit yang profesional, koperasi yang sehat, …
