Produksi roti UMKM di Banda Aceh meningkat berkat program MBG

Banda Aceh|BidikIndonesia.com– Produksi roti bundar oleh UMKM Toko Roti Richa Banda Aceh meningkat sejak terjalinnya kerjasama untuk menyuplai roti ke sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai salah satu menu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Alhamdulillah, selama ada pesanan dari SPPG produksi meningkat, kalau biasanya 1.000 roti per hari, sekarang ada permintaan dari program MBG sampai 2.500 roti sekali dipesan,” kata Rival Andrea, pemilik Toko Roti Richa, di Banda Aceh, Kamis.

Usaha roti ini tergolong baru, produksi pertama dimulai sejak bulan Desember 2025, dan diluncurkan pada April 2026 dengan tiga pekerja. Akan tetapi, pesanan dari SPPG sudah dimulai sejak Ramadhan atau Maret 2026.

Rival mengatakan usahanya pertama sekali mendapatkan permintaan dari SPPG pada bulan Ramadhan lalu ke wilayah Laweung Kabupaten Pidie, dengan total 6.000 roti per sekali pesan.

“Pesanan awal itu dari SPPG wilayah Laweung, permintaannya 6.000 roti sekali pesan, dan biasanya dua kali pesan dalam seminggu,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Saat ini, pihaknya sedang bekerjasama dengan SPPG Ie Masen Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh untuk permintaan 2.500 roti setiap dua minggu sekali atau lebih tergantung menu yang disajikan.

“Sekarang yang sudah kerjasama dengan SPPG Ie Masen Ulee Kareng. Dan ini juga lagi penjajakan dengan SPPG lainnya,” katanya.

Rival menjelaskan, untuk harga roti kosong yang sering dibuat menjadi hamburger tersebut dijualnya kepada SPPG Rp1.500 per buah. Harga tersebut sama dengan yang penjualan ke UMKM atau pedagang lainnya.

Di luar MBG, lanjut dia, rotinya ini dijual ke warung kopi, cafe, toko kelontong serta pedagang UMKM lainnya, dengan rata-rata penjualan 1.000 roti per hari.

“Biasanya kita suplai ke warkop-warkop, cafe, kios-kios dan pedagang atau lapak UMKM. Jadi, sejak ada MBG, alhamdulillah kita mendapatkan omzet tambahan,” katanya.

Ia menambahkan, roti yang diproduksinya sudah mendapatkan label halal dan izin BPOM, dan sekarang sedang dalam proses pengurusan higienis melalui ke pemerintah melalui Dinas Kesehatan.

Selain itu, roti-roti yang dibuatnya juga bebas dari bahan pengawet dan zat-zat kimia berbahaya lainnya, sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat.

“Roti kita tidak pakai bahan pengawet atau zat-zat berbahaya. Kita juga open dapur dan bisa dilihat orang. Saya jamin aman untuk dikonsumsi anak-anak. Roti kita juga tahan sampai seminggu,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, Rival juga berharap kepada pemerintah untuk dapat membantu para pelaku UMKM seperti mereka terus berkembang, baik melalui bantuan peralatan dan lainnya. Lalu, menjaga ketersediaan bahan baku serta kestabilan harga.

“Kepada pemerintah kita berharap bisa membantu UMKM seperti bantuan peralatan, dan pemasaran. Dan yang paling penting ketersediaan dan harga bahan baku juga kita harap bisa ditekan,” demikian Rival Andrea.

Seperti diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) terus mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), terutama di daerah terdampak bencana menjadi pemasok bahan pangan program  MBG.

Dorongan tersebut merupakan bagian dari langkah strategis BGN dalam mendukung pemulihan perekonomian masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *