Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Pemerintah Aceh mendorong para pelaku usaha peternakan dan kelompok binaan UPTD BTNR Saree dapat memanfaatkan sistem closed house guna menggenjot produksi dan memenuhi permintaan ayam pedaging di provinsi setempat.
“Pemerintah Aceh tidak hanya melakukan intervensi pada harga dan distribusi, tetapi juga mulai mendorong penguatan produksi. Salah satu langkah adalah peningkatan kapasitas dan kualitas kandang, termasuk mendorong peningkatan dari kandang konvensional menjadi sistem closed house,”kata Asisten II Setda Aceh, T Robby Irza di Banda Aceh, Kamis.
Ia menjelaskan upaya intervensi harga dan juga peningkatan kapasitas dan kualitas kandang merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Aceh dalam memenuhi ketersediaan menyusul tingginya permintaan ayam pedaging di provinsi itu.
Menurut dia, sistem closed house bisa mengontrol suhu dan kelembapan, sirkulasi udara bisa terjaga dan kapasitas muat bisa lebih banyak. Kandang biasa 8 ekor per meter persegi tapi kalau close house bisa 14 sampai 18 ekor per meter persegi.
“Artinya kita mengarahkan masyarakat yang berinvestasi dalam bisnis peternakan ayam pedaging dapat menggunakan sistem closed house. Sistem ini sangat cocok dengan daerah kita yang tropis ekstrem. Sistem tersebut diharapkan dapat menjaga produktivitas dan kontinuitas ayam siap panen,” katanya.
Kepala Dinas Peternakan Aceh, drh. Safridhal menambahkan sistem tersebut dapat menjaga kondisi lingkungan di dalam kandang seperti suhu, kelembaban dan sirkulasi udara yang dapat dikendalikan lebih baik, sehingga proses produksi tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca di luar kandang.
Pemerintah Aceh saat ini terus berupaya untuk menguprade kandang ayam ke type close house untuk ayam pedaging guna meningkatkan produksi dan dapat mengantisipasi cuaca dan lingkungan.
“Disnak Aceh saat ini juga sedang mengupayakan pemodalan dari perbankan untuk para kelompok tani peternak, pelaku UMKM, dan peternak mitra di Aceh yang ingin mengadopsi teknologi closed house,” katanya.
Ia menyebutkan kapasitas ayam tersedia di Aceh sebanyak 3.360.000 ekor per bulan, sementara kebutuhan sekitar 3.870.000 ekor per bulan, sehingga terjadi kekurangan sekitar 510.000 ekor per bulan.
“Kekurangan ayam pedaging tersebut saat ini dipasok dari Sumatera Utara,” katanya.
Pihaknya optimistis dengan penerapan sistem closed house dalam budidaya ayam pedaging akan mampu memenuhi permintaan pasar sekaligus menjaga stabilitas harga.

