Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Pemerintah Aceh menyiapkan tiga langkah strategis pada November 2026 sebagai upaya untuk menekan laju inflasi tahunan (YoY) pada Oktober mencapai angka sebesar 5,05 persen atau tertinggi di Pulau Sumatera.
“Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan perangkat daerah terkait, Pemerintah Aceh melaksanakan sejumlah langkah intervensi pasar pada November 2026 ini,” kata Asisten II Setda Aceh, T Robby Irza di Banda Aceh.
Adapun tiga langkah strategis yang diambil untuk menjaga laju inflasi di Aceh yakni pelaksanaan pasar tani oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan pada 4 sampai 10 November 2026 di empat kabupaten/kota.
“Kegiatan ini bertujuan memperpendek rantai distribusi dan menyediakan komoditas pangan dengan harga terjangkau,” katanya.
Kemudian Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Dinas Pangan yang dilaksanakan pada 10–26 November 2026 di enam kabupaten/kota yang bertujuan menyediakan bahan pangan pokok dengan harga terjangkau guna menjaga daya beli masyarakat.
Langkah strategis ketiga adalah Operasi Pasar Murah yang dilaksanakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan di 23 kabupaten/kota pada 12–25 November 2026 di seluruh 23 kabupaten/kota.
“Operasi Pasar Murah tersebut mengintervensi sejumlah komoditas meliputi beras premium, minyak goreng, telur ayam, dan gula pasir,” katanya.
T Robby Irza menjelaskan berdasarkan data BPS, inflasi Provinsi Aceh pada Oktober 2026 tercatat inflasi bulanan (MtM) Oktober sebesar 0,13 persen, inflasi tahunan kalender (YtD) sebesar 2,07 persen dan inflasi tahunan (YoY) tercatat sebesar 5,05 persen.
“Faktor penyebab inflasi pada bulan Oktober berasal dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang mengalami inflasi sebesar 0,77 persen, dengan andil 0,09 persen,” katanya.
Adapun komoditas yang memberi andil bagian terhadap inflasi bulan meliputi cabai merah sebesar 0,26 persen, cabai rawit sebesar 0,04 persen, nasi dengan lauk sebesar 0,03 persen, tomat sebesar 0,03 persen dan ikan bandeng sebesar 0,03 persen.
“Kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan tomat terutama dipengaruhi perubahan musim dan pola panen di sejumlah wilayah sentra produksi, yang berdampak terhadap ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi termasuk disebabkan naiknya permintaan kebutuhan bahan pangan menjelang peringatan Maulid Nabi,” katanya.
Sementara itu, inflasi tahunan terutama dipengaruhi kenaikan harga beras andil sebesar 0,63 persen, nasi dengan lauk sebesar 0,59 persen, bensin sebesar 0,29 persen, tomat sebesar 0,23 persen dan daging ayam ras sebesar 0,20 persen.


