Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Inflasi tahunan Kota Banda Aceh pada Oktober 2026 tercatat sebesar 4,34 persen, menurun dibandingkan September sebesar 4,69 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan tersebut sebagai indikator positif pengendalian inflasi daerah. Meski demikian, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan masih menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan daya beli masyarakat di tengah gejolak harga pangan.
Kepala BPS Aceh, Agus Andria, S.ST., M.Si., mengatakan kondisi pascabencana turut memengaruhi inflasi tahunan di Aceh.
Menurutnya, kondisi perekonomian dan harga pada tahun sebelumnya relatif rendah serta stabil. Sementara itu, proses pemulihan pascabencana sepanjang 2026 belum sepenuhnya kembali normal.
“Faktor pascabencana menjadi salah satu penyebab inflasi tahunan di Aceh masih relatif tinggi. Hal ini karena pada tahun sebelumnya kondisi perekonomian dan harga relatif rendah serta stabil, sementara pada 2026 proses pemulihan pascabencana belum sepenuhnya kembali normal,” ujar Agus.
Ia menjelaskan kondisi tersebut turut memengaruhi perkembangan harga berbagai komoditas hingga saat ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Kelautan, dan Perikanan (DP2KP) Banda Aceh, Iskandar, S.Sos., M.Si., menyebut kenaikan harga masih terjadi pada sejumlah komoditas pangan.
Komoditas tersebut meliputi beras premium, bawang merah, cabai, dan daging sapi. Kenaikan harga dipengaruhi biaya distribusi, transportasi, serta penyusutan barang.
Meski demikian, Iskandar memastikan ketersediaan stok pangan di Banda Aceh masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Kami terus mengupayakan Gerakan Pangan Murah dan Pasar Tani dengan memberikan subsidi serta menghadirkan produk langsung dari petani,” kata Iskandar.
Ia mengatakan pemerintah juga akan memperkuat kerja sama dengan BUMN dan BUMD. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan biaya distribusi, khususnya ongkos angkut, agar harga kebutuhan pokok tetap terjangkau.
Pemko Banda Aceh bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus mengintensifkan program Pasar Murah dan Pasar Pangan Murah.
Selain itu, optimalisasi Pasar Tani dilakukan dengan memperpendek rantai distribusi melalui penjualan hasil pertanian langsung kepada konsumen.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan biaya distribusi sekaligus memberikan akses pangan dengan harga lebih terjangkau.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan pasokan pangan di pasar. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga serta mengantisipasi potensi kenaikan menjelang akhir tahun.
Melalui berbagai langkah tersebut, Pemko Banda Aceh berharap inflasi dapat terkendali dan daya beli masyarakat tetap terlindungi hingga akhir 2026.


