Banda Aceh|BidikIndonesia.com — Menikmati kopi sanger di warung kopi mungkin sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harimasyarakat Aceh. Namun kini, ada cara baru menikmati kopi khas Tanah Rencong itu—bukan lagi dari sudut kedai yang ramai, melainkan dari atas kapal yang berlayar perlahan di perairan Ulee Lheue saat matahari mulai tenggelam.
Di Dermaga Ulee Lheue, Banda Aceh, sebuah konsep wisatasederhana bernama “Kopi Senja Ulee Lheue” mulai menarikperhatian masyarakat dan wisatawan. Konsepnya cukup unik. Pengunjung diajak menikmati pelayaran singkat selama satujam sambil menyeruput kopi sanger hangat di tengah laut.
Saat kapal mulai meninggalkan dermaga, suasana kotaperlahan menjauh. Suara mesin kapal berpadu dengan deburombak kecil dan hembusan angin laut yang terasa sejuk. Di kejauhan, garis perbukitan yang mengelilingi Banda Aceh tampak berdiri tenang di bawah cahaya matahari sore.
Bagi Duta Wisata (Agam) Aceh 2023, Vima SyaddadAlfathan, pengalaman menikmati sanger di atas kapal menghadirkan sensasi yang berbeda dibanding menikmatikopi di warung biasa.
“Biasanya kita minum sanger sambil duduk di warung kopi dan melihat keramaian kota. Tapi di sini suasananya berbeda, lebih tenang dan terasa lebih dekat dengan alam,” ujarnya.
Dengan biaya sekitar Rp50 ribu per orang, pengunjung sudahmendapatkan satu cup kopi sanger dan kesempatan menikmatisuasana senja di atas kapal bersama teman maupun keluarga.
Menurut Vima, pengalaman tersebut bukan hanya soalmenikmati kopi, tetapi juga tentang menikmati jeda darihiruk-pikuk aktivitas sehari-hari.
Ketika kapal mencapai tengah perairan, langit perlahanberubah warna. Cahaya jingga mulai menyelimuti cakrawala, memantul di atas permukaan laut yang tenang. Di momenitulah, kopi sanger terasa memiliki makna yang berbeda.
Sanger sendiri merupakan minuman kopi khas Aceh yang dibuat dari campuran espresso dan susu kental manis. Nama “sanger” dipercaya berasal dari istilah “sama-sama ngerti”, yang menggambarkan budaya kebersamaan masyarakat Aceh.
Di atas kapal kecil yang hanya menampung sekitar 8 hingga12 orang itu, suasana terasa lebih akrab. Para penumpangsaling berbagi cerita, menikmati camilan, hinggamengabadikan momen matahari terbenam dengan latar lautUlee Lheue.
Menurut Vima, konsep wisata seperti ini menunjukkan bahwapotensi wisata Aceh tidak selalu harus besar dan mewah. Terkadang, kreativitas sederhana justru mampu menghadirkanpengalaman yang berkesan bagi wisatawan.
“Sanger sudah menjadi identitas Aceh, laut juga bagian darikehidupan masyarakat pesisir. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah pengalaman baru yang punya cerita,” katanya.
Selain wisata kopi senja di atas kapal, inovasi kopi di Aceh juga terus berkembang. Salah satunya adalah Kopi Nira atauNirapresso, yakni perpaduan espresso kopi Gayo dengan air nira aren alami.
Minuman ini mulai populer di kalangan anak muda karenamenawarkan cita rasa berbeda sekaligus dianggap lebih sehatdibanding kopi dengan gula biasa.
Kopi Gayo sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu kopi terbaik dunia. Dengan aroma khas dan karakter rasa yang kuat, kopi dari dataran tinggi Gayo menjadi identitas pentingbagi Aceh.
Bagi Vima, berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwabudaya kopi di Aceh terus berkembang tanpa kehilangan jatidirinya.
“Tradisi tidak harus diam di tempat. Kopi bisa dinikmatidengan cara baru, tetapi tetap membawa identitas dan ceritatentang Aceh,” ujarnya.
Di tengah senja yang perlahan menghilang di ufuk barat UleeLheue, secangkir sanger hangat di atas kapal seolah menjadicara sederhana untuk menikmati Aceh dari sudut yang berbeda—lebih tenang, lebih dekat dengan alam, dan penuhcerita.(***)
