Wali Kota Banda Aceh kembali teken MoU penguatan kerja sama dengan Jepang

Banda Aceh|BidikIndonesia.com  – Pemerintah Kota Banda Aceh kembali melanjutkan kerja sama penguatan kebencanaan, pendidikan, perikanan, lingkungan hingga pariwisata dengan Pemerintah Kota Higashimatsushima, Jepang.

“Alhamdulillah, kita lanjutkan lagi kerjasama selama lima tahun ke depan dengan Higashimatsushima,” kata Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal saat dikonfirmasi dari Banda Aceh.

Kelanjutan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU kembali antara Wali Kota Banda Aceh dengan Wali Kota Higashimatsushima serta pimpinan parlemen masing-masing secara virtual dari Jakarta.

Prosesi penandatanganan MoU tersebut turut disaksikan perwakilan Kemendagri, pemerintah provinsi, serta Universitas Syiah Kuala (USK) Band Aceh dan lainnya, sedangkan dari Jepang hadir Wali Kota dan Ketua Parlemen Higashimatsushima hingga pimpinan Japan International Cooperation Agency (JICA) serta lainnya.

IIliza mengatakan, kelanjutan tersebut juga bagian dari kunjungannya pada April 2026 lalu ke Jepang, dan dilakukan penandatanganan LOI (Letter of Intent) atau kesepakatan awal kerjasama.

Bacaan Lainnya

Ia menyebutkan, adapun program kerjasama dengan Jepang ini yaitu mengenai kebencanaan untuk mewujudkan generasi Banda Aceh bisa tanggung bencana, pendidikan, bidang lingkungan dan kebersihan perikanan, kelautan, pariwisata dan lainnya.

“Insya Allah, mudah-mudahan dengan adanya MoU ini, kita segera bicarakan lebih lanjut program-program apa yang nantinya akan berjalan ke depan,” ujarnya.

Illiza menjelaskan, kerjasama ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pemerintah, tapi juga untuk masyarakat Banda Aceh, apalagi Higashimatsushima banyak program pemagangan, pemberdayaan nelayan hingga UMKM .

Ia menyebutkan, kalau MoU sebelumnya, mereka juga membahas tentang ketangguhan bencana, pariwisata dan pemberdayaan kelautan, budidaya tiram serta UMKM. Tetapi sekarang, lebih pada peningkatan agar lebih profesional dalam pengelolaan alam dan pendidikan.

“Mudah-mudahan nanti ada pertukaran pelajar, ada yang magang dan sebagainya. Untuk kelompok UMKM, dulunya hanya membuat produk dari Jepang. Ke depan, kita minta kalau bisa tentang packaging dan sebagainya, karena Jepang memang luar biasa packagingnya,” kata IIliza.

Terkait kota tangguh bencana, lanjut dia, nantinya bisa dilaksanakan program penguatan manajemen escape building yang memang cukup berbeda dan lebih baik di Jepang, di mana konsep mereka ikut menyediakan peralatan yang cukup hingga logistik.

Namun, untuk kepastian programnya seperti apa, nantinya pihak Jepang bakal melakukan asesmen terlebih dahulu terkait kebutuhan yang harus diimplementasikan.

“Nanti keberkelanjutannya tinggal  asesmen. Dan kalau dukungannya dari JICA, biasanya mereka lihat apa yang menjadi kebutuhan, sehingga mereka lakukan asesmen dulu,” demikian IIliza Sa’aduddin Djamal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *