BNPB tabur 11 ton garam atasi karhutla dan kekeringan di Aceh

Aceh Barat|BidikIndonesia.com– Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak tanggal 3-10 Juni 2026 menyatakan  telah menabur sebanyak 11 ton garam dalam rangka melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah udara Provinsi Aceh, sebagai upaya mengatasi karhutla di daerah itu.

“Operasi Modifikasi Cuaca yang digelar sejak awal Juni ini merupakan langkah konkret dan proaktif dari pemerintah pusat dan daerah untuk mengantisipasi potensi ancaman bencana kekeringan serta karhutla di wilayah Aceh,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah kepada wartawan, Kamis.Teuku Ronal

Ia menjelaskan berdasarkan data rekapitulasi penerbangan armada utama PK-JVH, operasi intensif tersebut berlangsung selama delapan hari berturut-turut, terhitung sejak tanggal 3 hingga 10 Juni 2026. di mana operasi tersebut difokuskan di wilayah rawan bencana, dengan titik prioritas utama mencakup kawasan pantai barat selatan Aceh, khususnya Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya, serta beberapa klaster pantauan di area Aceh Utara.

Langkah tersebut  diambil sebagai upaya mitigasi prabencana guna mengantisipasi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kekeringan meteorologis.

Menurut dia, selama delapan hari pelaksanaan operasi, tim penerbangan taktis berhasil merampungkan sebanyak 11 sorti penerbangan, dengan melakukan penyemaian awan (trackseeding).

Bacaan Lainnya

adapun total durasi operasi yang dihabiskan di udara oleh armada PK-JVH tercatat mencapai 26 jam 02 menit. Dalam misi tersebut, sebanyak 11.000 kilogram (11 ton) bahan semai Natrium Klorida (NaCl) atau garam berbutir halus, berhasil ditaburkan secara presisi ke dalam sel-sel awan konvektif potensial.

Berdasarkan visual peta akumulasi trackseeding, jalur penyemaian melintasi koridor udara di atas Aceh Barat, Nagan Raya, dan memanjang hingga ke Aceh Utara demi mengoptimalkan distribusi curah hujan buatan agar merata di atas wilayah prioritas dan kawasan hutan lindung.

“Kami di daerah sangat mengapresiasi dukungan penuh dari BNPB, BMKG, dan seluruh kru maskapai SAM ini,” katanya.

Pihaknya berharap intensitas hujan buatan mampu membasahi lahan-lahan kritis dan menekan potensi munculnya titik api di bawah permukaan tanah gambut secara signifikan.

BPBD Kabupaten Aceh Barat bersama instansi terkait akan beralih ke tahap pemantauan berkala pasca-OMC. Petugas di lapangan tetap disiagakan untuk memonitor perkembangan titik panas serta melakukan patroli darat.

BPBD Aceh Barat juga mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat koridor barat selatan Aceh, agar tetap waspada dan tidak melakukan tindakan pembersihan lahan dengan cara membakar, demi mempertahankan hasil positif dari teknologi modifikasi cuaca.i’m

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *