Jantho|BidikIndonesia.com – Hingga Agustus 2025, tercatat ada 612 kasus balita di Aceh Besar terkena campak.
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membawa anaknya melakukan Imunisasi campak dan adanya ketakutan menjadi salah satu pemicu.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Aceh Besar, Nelly Ulfiati SKM MPH, mengatakan, jumlah kasus campak di Aceh Besar terbilang cukup banyak.
Sehingga perlu kerjasama semua pihak, untuk melakukan sosialisasi perihal pentingnya Imunisasi campak bagi balita dan baduta.
“Di Aceh Besar banyak temuan campak. Kasus kita saat ini sekitar 612 kasus campak di Aceh Besar di usia balita. Angka ini cukup besar,” kata Nelli.
Dikatakan, untuk tahun 2025 ini, sebanyak 7.019 bayi yang menjadi sarana menerima vaksinasi cakupan MR1.
Namun, dari data Januari-Agustus 2025, baru 1.764 atau 25,1 persen balita di Aceh Besar menerima dosis pertama vaksin Campak dan Rubella.
Sementara untuk bayi dibawah dua tahun (baduta) dari target sasaran 7.039, baru 1.119 atau 15,8 persen yang mendapat cakupan MR2 booster.
Dikatakan Nelli, rendahnya cakupan vaksinasi campak itu disebabkan oleh multifaktor.
Mulai dari segi pengetahuan tentang apa itu vaksinasi campak hingga kurangnya kesadaran masyarakat, juga menjadi penyebab.
Terlebih saat ini, keengganan di masyarakat yang beranggapan imunisasi itu kurang penting.
”Hingga mereka abai saat pelaksanaan imunisasi. Isu halal haram juga jadi pemicu, makanya kita ajak tokoh agama untuk menyampaikan ini,” jelas Nelli.
Karena itu, ia meminta dukungan semua pihak untuk pelaksanaan imunisasi tersebut.
Sebab, tantangan imunisasi ini tidak mudah, segala upaya sudah pihaknya lakukan, namun hasil belum menggembirakan.
“Kita saat ini masih cukup jauh target yang kita harapkan yang mencapai hampir 50 persen. Kami tidak berputus asa dan terus melakukan sosialisasi ini. Hal ini agar informasi dapat tersampaikan seluruh ke masyarakat. Diharapkan kesadaran masyarakat meningkat untuk memberikan imunisasi ke anaknya,” jelasnya.(*)
