Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Perwakilan Teungku Inong Aceh, Masyitah, menyerukan penghentian penggunaan energi kotor seperti batu bara dan minyak bumi di tanah rencong. Seruan ini disampaikan menyusul kekhawatiran terhadap dampak negatif energi fosil terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan perubahan iklim ekstrem.
“Kami menyatakan keprihatinan mendalam terhadap kerusakan lingkungan, pencemaran udara dan air, serta ancaman bagi kesehatan dan kehidupan masyarakat akibat energi kotor,” kata Masyitah dalam deklarasi Teungku Inong Aceh di Aceh Tengah, Jumat, 31 Oktober 2025.
Menurut Masyitah, ajaran Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggung jawab menjaga dan memakmurkan alam, bukan merusaknya. Prinsip-prinsip Islam seperti maslahah (kemaslahatan), adil (keadilan), dan ihsan (kepedulian) mendorong masyarakat untuk beralih ke solusi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Dalam deklarasi itu, Teungku Inong Aceh menyerukan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh segera menetapkan kebijakan transisi energi yang tegas dan terukur, serta menghentikan eksploitasi energi kotor. Mereka juga mendorong seluruh kebijakan pembangunan di Aceh berlandaskan nilai-nilai Islam dan prinsip keberlanjutan.
Sebagai wujud komitmen, dayah-dayah Teungku Inong Aceh siap menjadi pusat edukasi lingkungan dan energi bersih berbasis nilai-nilai Islam. Program ini bertujuan mendorong praktik hidup berkelanjutan di lingkungan dayah dan masyarakat, sekaligus menjalin kemitraan dengan pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil.
Masyitah berharap ikhtiar ini menjadi amal jariyah dan membawa keberkahan bagi seluruh rakyat Aceh. Ia juga mengutip salah satu ayat dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56).***







