Saudagar Aceh Malaysia Siap Tampung Komoditas Aceh Lewat Jalur Ekspor Krueng Geukueh–Penang

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Saudagar Aceh Malaysia, Datuk Mansyur Usman, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Pemerintah Aceh memperkuat jalur ekspor komoditas lokal ke Malaysia melalui rute Krueng Geukueh–Penang. Ia menilai Aceh memiliki potensi besar yang selama ini belum dimaksimalkan, terutama pada sektor padi dan beras.

“Di Malaysia ada hampir 600 ribu warga Aceh dan sekitar 25 ribu pengusaha Aceh. Saya sangat berbangga dengan gagasan Pemerintah Aceh terkait komoditas Aceh yang akan dibawa ke Malaysia. Potensi pertama yang saya lihat adalah beras atau padi Aceh,” ujar Mansyur dalam seminar nasional ekspor-impor berbasis komoditas lokal di Banda Aceh.

Menurut Mansyur, selama ini sebagian besar padi dari 23 kabupaten/kota di Aceh dibawa ke Medan untuk diproses menjadi beras, lalu kembali masuk ke Aceh. Ia menilai pola itu merugikan petani maupun pelaku usaha lokal.

Para pengusaha Malaysia, kata Mansyur, membuka peluang kerja sama dengan BUMD dan perusahaan Aceh untuk memasok beras melalui jalur laut Krueng Geukueh–Penang. Malaysia saat ini masih mengimpor sekitar 30 persen beras dari Thailand, Kamboja, Myanmar, dan negara Asia lainnya, sehingga Aceh dinilai memiliki peluang besar secara geografis maupun kualitas.

Selain beras, komoditas lain seperti sawit, tuna, udang, dan berbagai produk perikanan Aceh disebut memiliki prospek kuat di pasar Malaysia. Mansyur menuturkan beberapa perusahaan Malaysia telah meninjau langsung potensi kelautan Aceh di Lampulo.

Bacaan Lainnya

Ia juga mengajak Pemerintah Aceh membangun komunikasi lebih intens dengan pedagang dan pengusaha Aceh di Malaysia. Mansyur menyoroti adanya tujuh kapal kayu berkapasitas 200–400 ton yang setiap hari masuk ke Tanjung Balai dan Belawan membawa berbagai komoditas dari Sumatera.

“Bayangkan, satu hari tujuh kapal. Jika Aceh ingin bersaing, sanggupkah kita menghadirkan produk Aceh lewat Krueng Geukueh secara rutin, minimal mingguan,” ujarnya.

Mansyur turut menyinggung potensi kerja sama lain, termasuk suplai pupuk dari perusahaan-perusahaan di kawasan Indrapuri untuk perkebunan sawit di Malaysia.

Mewakili ratusan ribu perantau Aceh di Malaysia, ia berharap program ekspor yang digagas Pemerintah Aceh dapat berjalan efektif pada awal 2026.

“Saya sangat berharap program pemerintah ini bisa dilaksanakan pada awal 2026,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *