Dari Pulau Dua hingga Tas Situk, Pesona Alam dan Budaya Aceh Selatan

Panorama keindahan Kabupaten Aceh Selatan, jalan mulus yang dihimpit antara pengunungan dan bibir pantai

Tapaktuan|BidikIndonesia.com — Aceh Selatan seolah menjadi tempat di mana alam dan budaya berjalan beriringan. Di wilayah yang membentang dari Tapaktuan hingga Trumon Raya itu, wisatawan tidak hanya disuguhi panorama laut dan perbukitan, tetapi juga kisah legenda serta kreativitasmasyarakat yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.

Perjalanan menuju pesona Aceh Selatan dimulai dari kawasan Bakongan Timur. Dari jalan nasional Tapaktuan-Medan, matapengunjung akan langsung tertuju pada dua pulau kecil yang berdiri berdampingan di tengah laut biru Samudera Hindia. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Pulau Dua.

Pulau ini terlihat sederhana dari kejauhan, namun menyimpankeindahan yang sulit dilupakan. Pasir putih, air laut yang jernih, serta deretan pohon kelapa membuat kawasan tersebutmenjadi tempat favorit wisatawan untuk bersantai, memancing, hingga menikmati matahari tenggelam.

Namun bagi warga setempat, Pulau Dua bukan sekadar destinasi wisata laut. Di balik keindahannya, tersimpan ceritalegenda dan nilai spiritual yang diwariskan turun-temurun.

Bacaan Lainnya

Lukman Hakim, warga Bakongan Timur, menceritakan bahwamasyarakat meyakini Pulau Dua berkaitan dengan kisahlegenda Tuan Tapa yang sangat terkenal di Aceh Selatan.

Menurut cerita rakyat, dahulu terjadi pertarungan antara Tuan Tapa dan seekor naga raksasa. Naga betina yang kalahmelarikan diri hingga menabrak sebuah pulau besar yang kemudian terbelah menjadi dua bagian.

“Makanya sekarang dikenal sebagai Pulau Dua. Cerita inisudah diwariskan dari orang-orang tua sejak dulu,” kata Lukman.

Dua pulau tersebut kini dikenal dengan nama Pulau Kayu dan Pulau Teungku. Jika Pulau Kayu ramai dikunjungi wisatawan, Pulau Teungku justru lebih dikenal sebagai lokasi yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat.

Di pulau itu terdapat makam seorang ulama atau musafir asalPadang, Sumatera Barat, yang diyakini memiliki karomah. Warga setempat masih menjaga cerita tentang makamtersebut, termasuk keberadaan sumur air tawar yang munculdi tengah pulau kecil yang dikelilingi laut asin.

“Banyak orang datang bukan hanya untuk berwisata, tetapijuga berziarah,” ujar Lukman.

Ia mengatakan masyarakat tetap menjaga kesakralan PulauTeungku dan berharap wisatawan yang datang tetapmenghormati adat serta norma setempat.

Keindahan Pulau Dua semakin terasa menjelang senja. Burung-burung kembali ke sarang di sela pepohonan, sementara suara ombak berpadu dengan langit jingga yang perlahan tenggelam di cakrawala Samudera Hindia.

Dari kawasan pesisir Bakongan, perjalanan berlanjut menujuTrumon Raya. Jika sebelumnya wisatawan menikmatipanorama laut dan legenda, di wilayah ini pengunjung akanmenemukan sisi lain Aceh Selatan melalui kreativitasmasyarakat desa.

Di Gampong Ie Jeurneh, Cot Bayu, dan beberapa desalainnya, pelepah pinang yang selama ini dianggap limbah kinidisulap menjadi kerajinan tangan bernilai ekonomi tinggi.

Sekretaris Desa Ie Jeurneh, Mawardi Munis, mengatakankerajinan tersebut mulai dikembangkan secara serius sejakakhir 2024 melalui pendampingan dari berbagai pihak.

“Dulu pelepah pinang hanya dibuang begitu saja. Sekarangsudah menjadi sumber penghasilan tambahan bagi warga,” ujarnya.

Pelepah pinang yang telah kering dikumpulkan, dijemur, laludianyam secara manual menjadi tas, tempat tisu, tudung saji, hingga berbagai suvenir khas Aceh Selatan.

Warisatul Ambia dan Ratu Qaneeta Nasywa sebagai Agam Inong Duta Wisata Aceh Selatan 2025

Duta Wisata Aceh Selatan, Warisatul Ambia, menjelaskansetiap produk Tas Situk memiliki ciri khas tersendiri karenadibuat langsung dengan tangan tanpa bahan kimia tambahan.

“Tidak ada tas yang benar-benar sama. Semua punya motif dan warna alami yang berbeda,” katanya.

Harga Tas Situk pun cukup terjangkau, mulai dari Rp100 ribuhingga Rp200 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitananyaman.

Lebih dari sekadar produk kerajinan, aktivitas menganyamjuga menjadi ruang kebersamaan bagi perempuan desa. Mereka bekerja bersama di rumah-rumah warga sambilberbagi cerita dan menjaga tradisi gotong royong yang masihkuat di kawasan Trumon Raya.

Di Aceh Selatan, wisata bukan hanya tentang tempat yang indah untuk dipotret. Di balik laut biru, legenda tua, dan anyaman pelepah pinang, ada kehidupan masyarakat yang terus menjaga warisan alam dan budaya agar tetap hidup darigenerasi ke generasi.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *