Takengon|BidikIndonesia.com — Kabut pagi perlahan terangkat dari datarantinggi Gayo. Di tengah udara dingin yang menyelimuti Aceh Tengah dan Bener Meriah, suara derap kaki kuda memecahkesunyian. Ribuan pasang mata tertuju ke arena tanahberlumpur, sementara sorak masyarakat menggemamengiringi para joki yang melaju tanpa rasa takut.
Itulah Pacu Kude, tradisi khas masyarakat Gayo yang hinggakini tetap bertahan sebagai salah satu warisan budaya paling kuat di Aceh.
Bagi masyarakat dataran tinggi Gayo, Pacu Kude bukansekadar perlombaan kuda. Tradisi ini adalah bagian dariidentitas, ruang kebersamaan, sekaligus simbol hubungan eratantara masyarakat dengan warisan leluhur mereka.
Setiap kali perlombaan digelar, suasana berubah menjadipesta rakyat. Warga dari berbagai kampung berkumpul di arena pacuan. Anak-anak berlari di tepi lintasan, pedagangmemenuhi sudut lapangan, sementara para orang tua duduk menyaksikan perlombaan dengan penuh semangat.
Tradisi Pacu Kude sendiri lahir dari kehidupan sederhanamasyarakat Gayo pada masa lalu. Dahulu, usai musim panenpadi, para pemuda kampung memanfaatkan waktu luangdengan menangkap kuda liar dan memacunya di lapanganterbuka.
Saat itu belum ada aturan resmi, hadiah, ataupun arena permanen. Semua dilakukan hanya untuk hiburan dan mempererat hubungan antar kampung.
Namun dari tradisi sederhana itulah lahir sebuah budaya besaryang terus berkembang hingga sekarang.
Memasuki masa kolonial Belanda, Pacu Kude mulai ditatalebih terorganisir. Pada tahun 1912, pemerintah HindiaBelanda memindahkan arena pacuan dari Kampung Bintang ke kawasan Blang Kolak, Takengon.
Arena dibuat lebih rapi dengan lintasan berbentuk oval dan pagar pembatas. Para joki mulai mengenakan pakaian khususberwarna-warni, sementara hadiah perlombaan mulaidiperkenalkan untuk menarik perhatian masyarakat.
Meski mengalami banyak perubahan, nilai utama Pacu Kudetetap bertahan: kebersamaan dan semangat masyarakat Gayo.
Tradisi ini juga dikenal unik karena sebagian besar joki yang menunggangi kuda masih berusia muda, bahkan anak-anak. Dengan keberanian tinggi, mereka memacu kuda tanpa pelanadi lintasan berlumpur yang penuh tantangan.
Keberanian para joki muda itulah yang sering menjadi dayatarik utama bagi wisatawan yang datang dari berbagai daerah.
Setelah Indonesia merdeka, Pacu Kude semakin berkembangsebagai agenda budaya daerah. Pemerintah daerah mulaimengelola perlombaan secara lebih profesional, termasukmembangun arena pacuan yang lebih representatif.
Di Aceh Tengah, arena pacuan kini berada di BlangBebangka, sementara di Kabupaten Bener Meriah terdapatLapangan Sengeda di kawasan Rembele.
Kehadiran arena permanen tersebut menunjukkan bahwa PacuKude tidak hanya dipandang sebagai hiburan rakyat, tetapijuga aset budaya dan pariwisata yang penting bagi Tanah Gayo.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Pacu Kude tetapbertahan dan tidak kehilangan penggemarnya. Ribuanmasyarakat masih memadati arena setiap perlombaan digelar, membuktikan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat kuatdi hati masyarakat.
Bagi generasi muda Gayo, Pacu Kude bukan hanya soalkecepatan kuda di lintasan. Tradisi ini menjadi ruang belajartentang sejarah, kebersamaan, dan tanggung jawab menjagaidentitas budaya.
“Pacu Kude bukan hanya perlombaan, tetapi bagian dari jatidiri masyarakat Gayo,” demikian keyakinan yang terusdiwariskan dari generasi ke generasi.
Kini, Pacu Kude tidak hanya dikenal di Aceh, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mulai dilirikwisatawan nasional hingga mancanegara.
Di setiap derap kuda yang melintas, tersimpan cerita panjangtentang perjuangan masyarakat menjaga tradisi agar tidakhilang ditelan zaman.
Dan di Tanah Gayo, ketika sorak penonton kembalimenggema dari arena pacuan, masyarakat sesungguhnyasedang merayakan sesuatu yang lebih besar dari sekadarperlombaan: mereka sedang menjaga sejarah agar tetap hidup.(***)







