Banda Aceh|BidikIndonesia.com– Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman mengajak pemuda untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan bangsa seperti kemiskinan, ketimpangan ekonomi, keterbelakangan dan degradasi moral.
“Mari kita jadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai ruang refleksi untuk menjawab persoalan bangsa,” katanya di sela-sela Simposium Sumpah Pemuda bertajuk Merawat Persatuan NKRI dalam Bingkai Kepemudaan yang Reformis di Banda Aceh, Selasa.
Ia menjelaskan dalam menyelesaikan persoalan bangsa tersebut membutuhkan keterlibatan generasi muda serta kepemimpinan yang berintegritas.
Menurut dia, peringatan Sumpah Pemuda tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan untuk mengenang peristiwa 28 Oktober 1928.
“Semangat persatuan yang dicetuskan para pemuda saat itu perlu diwujudkan melalui langkah nyata dalam menjawab berbagai persoalan bangsa,” katanya.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan masa penjajahan fisik. Namun, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan degradasi moral masih menjadi persoalan yang perlu dikaji dan dicarikan solusinya.
Ia juga menyoroti ketimpangan ekonomi di tengah melimpahnya sumber daya alam Indonesia, termasuk Aceh. Menurutnya, kekayaan alam seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya dinikmati oleh kelompok tertentu.
Mujiburrahman menilai kesejahteraan masyarakat berkaitan erat dengan kualitas kepemimpinan.
Karena itu, integritas, pengetahuan, dan tanggung jawab diperlukan dalam mengelola sumber daya alam agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan jabatan dan kekuasaan sebagai sarana memperkaya diri sendiri. Sebaliknya, generasi muda harus membangun moralitas dan integritas serta memiliki komitmen untuk mendorong perubahan di daerah.
Mujiburrahman berharap simposium tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan, merumuskan solusi, dan menyatukan visi dalam menghadapi persoalan di tingkat lokal maupun nasional.
Sementara itu, Ketua SEMA UIN Ar-Raniry, Zuhari Alvinda Haris, mengatakan simposium tersebut tidak hanya membahas peran pemuda dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga mengkaji persoalan nasional dan Aceh yang akan dihadapi generasi penerus.
Ia berharap forum tersebut dapat mendorong mahasiswa melahirkan terobosan, inovasi, dan gagasan baru untuk menjawab berbagai tantangan.
“Kita tidak ingin generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Indonesia dan Aceh ini menjadi generasi-generasi yang pengecut dan melempem ke depannya,” kata Zuhari.


