Banda Aceh|BidikIndonesia.com- Pemerintah Kota Banda Aceh memperluas pelaksanaan Waste Collecting Point (WCP) melalui desa (gampong) sebagai upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya dengan pemberdayaan kelompok wanita tani.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, di Banda Aceh, Rabu, mengatakan program tersebut merupakan pengembangan lebih dari 30 WCP yang telah berjalan di ibu kota provinsi Aceh itu.
“Yang sudah berjalan 30 WCP itu berjalan cukup baik, dan kita terus mengembangkan. Hari ini ada 10 gampong yang kita ingin tambah,” kata, IIliza Sa’aduddin Djamal usai membuka sosialisasi pelaksanaan WCP 2026.
Ia mengatakan, kelompok wanita tani akan mendapat pendampingan untuk memilah sampah, sehingga hanya sampah residu yang diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
Kemudian, untuk sampah yang masih bernilai bakal dimanfaatkan menjadi kompos maupun produk lain yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Selain mendukung pengelolaan sampah, kata Illiza, program tersebut juga dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan dan pengembangan tanaman penghasil minyak atsiri sebagai bahan baku parfum.
“Kita ingin, karena kota ini kita sudah jelas sebagai kota parfum, nanti di sana juga kita kembangkan tanaman-tanaman untuk atsiri, jadi bahan baku minyak wangi,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Illiza mengajak masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah mulai dari rumah agar tercipta lingkungan yang bersih dan sehat bagi generasi mendatang.
“Ayo, kita mulai dari kita sendiri, keluarga dan lingkungan kita, sehingga nanti seluruh kota akan bersih,” kata Illiza.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kota Banda Aceh sekaligus pendamping Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar Berduri, Bustami mengatakan pemilahan sampah dari rumah tangga menjadi langkah penting karena sebagian besar sampah di Banda Aceh berasal dari rumah tangga.
“Kita berharap dengan ada kegiatan WCP ini, nantinya sudah ada usaha untuk melakukan pemilahan sampah, terutama sampah non organik yang bisa dimanfaatkan untuk menambah pendapatan kelompok,” katanya.
Ia menegaskan, pihaknya terus mendampingi kelompok wanita tani agar mampu memilah sampah organik yang dapat diolah menjadi pupuk kompos, dan non-organik untuk dijual, sehingga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Kelompok tani juga akan mengembangkan tanaman penghasil minyak atsiri yang sesuai dengan kondisi wilayah Banda Aceh sebagai dukungan terhadap program kota parfum,” pungkas Bustami.
