Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Masyarakat Pernaskahan Nusantara Aceh (Manassa) telah menginventarisasi sebanyak 520 manuskrip Aceh yang rusak akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda provinsi itu pada akhir November 2025.
“Naskah-naskah yang telah kami inventarisasi tersebut akan dilakukan restorasi sesuai dengan tingkat kerusakan yang telah ditetapkan. Restorasi yang kami lakukan ini bagian menyelamatkan berbagai dokumen bersejarah,” kata Ketua Manassa Aceh, Hermansyah di Darussalam, Banda Aceh, Senin.
Ia menjelaskan, restorasi manuskrip terdampak bencana tersebut merupakan koleksi yang ada di masyarakat, lembaga, ataupun koleksi pemerintah.
“Artinya, restorasi yang kita lakukan ini tetap mempertimbangkan dengan tingkat kerusakan dan ketersediaan sumber daya manusia dan juga dukungan anggaran dalam kegiatan tersebut,” katanya.
Hermansyah yang juga dosen filologi di Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengatakan penyelamatan naskah dari dampak kerusakan tersebut ikut bekerja sama dengan beberapa lembaga seperti UIN Ar Raniry, Balai Pelestarian Kebudayaan, dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas).
Menurut dia, dari lima ratusan naskah tersebut ada 100 naskah yang menjadi prioritas untuk dilakukan konservasi dan 50 naskah dilakukan pembuatan cover yang rusak akibat bencana.
“Kita melakukan restorasi atau perbaikan naskah mulai dari tahap awal sampai pada penjilidan. Nah, dalam hal ini ada beberapa naskah yang memang sama sekali tidak bisa diperbaiki, sudah hancur total. Kita juga bersyukur juga masing bisa menyelamatkan beberapa naskah koleksi di masyarakat dan di lembaga,” katanya.
Lebih rinci ia menjelaskan, proses penyelamatan tersebut seperti pembersihan ulang dengan membuka lembaran naskah yang sudah tertempel oleh air hingga pada pengeringan menggunakan alat pengering khusus.
“Pengeringan ini tentu kita lakukan dengan penuh kehati-hatian sehingga naskah saat kering bisa dibuka kembali tanpa merusak isi di dalam manuskrip,” katanya.
Ia menambahkan untuk melakukan restorasi seluruh manuskrip tersebut perlu dukungan sumber daya manusia yang cukup dan juga ketersediaan anggaran agar sejarah Aceh yang terekam dalam manuskrip tersebut tetap lestari dan dapat dibaca oleh generasi muda selanjutnya.

