Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) memproyeksikan target lifting tahun 2026 tetap kompetitif meski dibayangi tantangan operasional serius. Berdasarkan target Work Program & Budget (WP&B) 2026, BPMA mematok produksi gas sebesar 48,40 MMSCFD dan minyak sebesar 1.876 BOPD, dengan total lifting gabungan mencapai 10.519 BOEPD.
Namun, realisasi target tersebut menghadapi ganjalan akibat rentetan insiden pada 2025. Bencana banjir di wilayah kerja (WK) serta kebakaran tangki F-2101 di Arun memaksa adanya penyesuaian operasional yang berdampak langsung pada angka produksi.
Pascakebakaran tangki, BPMA menerapkan skema injeksi kondensat selama kurang lebih tiga bulan. Langkah darurat ini berkonsekuensi pada penurunan produksi minyak menjadi 1.603 BOPD.
“Terdapat selisih penurunan sebesar 273 BOEPD dibandingkan target WP&B 2026. Penurunan ini didominasi oleh pengurangan produksi minyak akibat implementasi injeksi kondensat pascainsiden,” tulis keterangan resmi Bidang Komunikasi, Publikasi, dan Hubungan Media BPMA pad Selasa, 3 Februari 2026.
Meski produksi minyak terkoreksi, pasokan gas dilaporkan tetap stabil di level 48,40 MMSCFD. Saat ini, tumpuan produksi migas Aceh masih mengandalkan tiga wilayah kerja aktif yaitu, WK A (PT Medco E&P Malaka), WK B (PT Pema Global Energi) dan WK Pase (Triangle Pase Inc.)
Selain faktor bencana, BPMA mengidentifikasi sejumlah tantangan teknis yang harus segera dibenahi untuk menjaga stabilitas produksi, di antaranya peremajaan fasilitas, kemandirian fasilitas dan ketersediaan alat.
Di sisi lain, optimisme muncul dari sektor eksplorasi. BPMA mencatat beberapa wilayah kerja berstatus Open Area kini mulai diminati oleh calon investor, baik dari perusahaan nasional maupun internasional.
Saat ini, BPMA bersama KKKS tengah menyusun langkah strategis untuk meminimalkan defisit lifting dan memastikan produksi minyak pascainsiden tangki tetap berjalan optimal guna mengejar target yang telah ditetapkan.***







