LHOKSEUMAWE | bidikindonesia.com – Sutradara J. Hendry Noerman kembali mempersembahkan karya terbaru bertajuk “NAHRASIYAH: Jejak Sang Sultanah” (2025), sebuah film dokumenter hybrid yang mengangkat kisah nyata kepemimpinan perempuan pertama di Nusantara dari Kesultanan Samudera Pasai. Film ini menjadi bukti konsistensi Hendry dalam mengeksplorasi bentuk sinema dokumenter eksperimental yang berpadu dengan unsur teatrikal dan musik yang kuat secara emosional.
Sebelumnya, Hendry dikenal melalui sejumlah karya dokumenter dan film hybrid seperti Medan Hardcore (2012), Experimentalia Menuju Surga (2017), dan Imperator Infernum (2021). Karya-karya tersebut dikenal berani dan penuh eksplorasi bentuk sinema, bahkan beberapa di antaranya menembus festival bergengsi seperti FFD Yogyakarta, JAFF Netpac, Salamindanaw Film Festival, serta APFF Karachi.
Filmnya Identitas (2017) yang mengisahkan perjuangan masyarakat Aceh untuk memiliki KTP merah-putih di masa konflik, menjadi salah satu karya penting yang memantik diskusi publik dan kini menjadi bagian arsip JAFF. Setelah vakum beberapa tahun pasca film RASA (2022) yang mendapat dukungan dari Yayasan Aceh Documentary, Hendry kembali dengan karya yang lebih matang secara artistik dan tematik.
—
Tentang Film
“NAHRASIYAH: Jejak Sang Sultanah” menggambarkan perjalanan Sultanah Nahrasiyah, penguasa Kesultanan Samudera Pasai pada tahun 1406–1428 M, putri dari Sultan Zainal Abidin bin Ahmad bin Muhammad bin Malikussaleh. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang bijak, berwibawa, serta memiliki kasih sayang keibuan yang luar biasa. Dalam masa pemerintahannya, Nahrasiyah menegakkan nilai-nilai kesetaraan gender, keadilan sosial, dan kemanusiaan.
Makam Sultanah Nahrasiyah yang megah, terbuat dari batu pualam dan penuh ukiran kaligrafi indah, bahkan diakui para sejarawan dunia sebagai makam terindah di Asia Tenggara. Catatan tentang kepemimpinannya juga tercatat dalam kronik Tiongkok Ying-yai Sheng-lan, menandakan besarnya pengaruh beliau dalam diplomasi dan perdagangan internasional pada masa itu.
Bagi Hendry, Nahrasiyah bukan sekadar figur sejarah, tetapi simbol “wali perempuan Nusantara” — sosok yang memadukan kekuasaan, spiritualitas, dan kelembutan.
—
Proses Produksi dan Pendanaan
Film berdurasi 7 menit ini diproduksi oleh Matasapi Films dan didanai sepenuhnya oleh Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, bekerja sama dengan Teater Rongsokan dan Telaga Art Space Banda Aceh. Dengan pendekatan dokumenter-teatrikal, Hendry berupaya menciptakan pengalaman sinema yang unik: menggabungkan adegan dokumenter, teatrikal, dan musik magis untuk menghadirkan nuansa spiritual masa lalu.
Proses produksi film dilakukan selama tiga bulan — mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca-produksi — dengan dukungan tim kecil independen yang berkomitmen penuh terhadap nilai sejarah dan artistik karya ini.
—
World Premiere dan Pesan Film
Film ini akan tayang perdana dalam NAHRASIYAH ART FESTIVAL 2025, pada 8–9 Oktober 2025 di Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah, Lhokseumawe. Acara tersebut akan menghadirkan pemutaran film, pertunjukan seni teatrikal, serta diskusi budaya yang melibatkan seniman dan akademisi.
Menurut Hendry, film ini bukan sekadar penghormatan kepada sejarah, tetapi juga seruan untuk melihat kembali kontribusi perempuan dalam peradaban Nusantara, khususnya di Aceh.
“Saya ingin masyarakat menoleh ke barat ujung Indonesia,” ujar Hendry. “Bahwa pahlawan dan pemimpin perempuan hebat bukan hanya Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, atau Malahayati, tetapi juga ada Sultanah Nahrasiyah — sosok ibu bangsa yang pengasih, berani, dan menjunjung kesetaraan gender jauh sebelum zamannya.”
—
Distribusi dan Rencana Lanjut
Sebagai media pembelajaran dan pelestarian sejarah, NAHRASIYAH: Jejak Sang Sultanah akan ditayangkan di berbagai festival film, kampus, sekolah, komunitas seni, museum, serta program misi kebudayaan di tingkat nasional maupun internasional.
Film ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mengenal kembali warisan peradaban Islam Nusantara dan kepemimpinan perempuan dari tanah Samudera Pasai.
—
Kontak:
J. Hendry Noerman
Email: hendkill@gmail.com
Facebook: Hendry Norman
Instagram: @hendrynorman
YouTube: Hendry Norman
