Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kementerian Agama RI bersama Bank Indonesia dan Konsorsium NUUR+ menyerahkan bantuan program wakaf panel surya untuk Masjid Nurul Iman di Kampung Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang yang terdampak bencana banjir Aceh.
“Pemanfaatan energi surya melalui kolaborasi wakaf ini merupakan bukti konkret bahwa ekoteologi adalah aksi nyata,” kata Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad, di Aceh Tamiang.
Instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 7.320 Wp ini sebagai solusi energi bersih sekaligus memperkuat akses keandalan listrik di kawasan rawan dan terdampak bencana.
Program ini terwujud atas sinergi Konsorsium NUUR+ yang terdiri dari berbagai lembaga dengan visi sama dalam mendorong kemandirian energi rumah ibadah, yaitu Wakaf Al Azhar, MOSAIC, Enter Nusantara, dan Wakaf Salman.
Selain memperkuat ketahanan bencana, sistem panel surya ini diprediksi mampu menghasilkan kemandirian energi hingga 532 kWh per bulan, memangkas beban biaya operasional listrik masjid hingga Rp768.000 per bulan, serta berkontribusi mengurangi emisi karbon 478 kg.
Wilayah pelosok seperti Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang ini
kerap dihadapkan ancaman bencana tahunan seperti banjir bandang dan tanah
longsor yang berdampak pada terputusnya jaringan listrik utama.
Abu mengatakan, ketika bencana melanda, masjid tidak sekedar berfungsi sebagai tempat ibadah, melainkan juga bertransformasi menjadi pusat evakuasi, posko pengungsian, serta pusat penyaluran bantuan warga.
“Kementerian Agama terus berupaya
mendorong lahirnya masjid-masjid ramah lingkungan yang mandiri energi, tangguh bencana, dan memberi kemaslahatan yang luas bagi masyarakat,” ujar Abu Rokhmad.
Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS), terdapat 710.441 masjid dan mushala yang terdaftar secara nasional. Kementerian Agama menargetkan 44 persen masjid dan 28 persen mushala bertransformasi menjadi eco-masjid yang menerapkan prinsip ramah lingkungan secara berkelanjutan.
Pendanaan program ini bersumber dari donasi yang dihimpun oleh karyawan Bank Indonesia, dengan Enter Nusantara sebagai mitra pelaksana untuk mengawal proses instalasi hingga edukasi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Lhokseumawe, Yudo Herlambang menegaskan, pihaknya terus mengambil bagian dalam mendorong pengembangan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di daerah.
Salah satu yang didorong adalah penguatan ekonomi dan keuangan syariah, termasuk melalui optimalisasi potensi wakaf.
“Wakaf panel surya yang dikelola secara produktif dapat mendukung kemandirian ekonomi umat, menciptakan efisiensi, memperluas manfaat sosial, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan,” katanya.
Disisi lain, Dewan Pembina MOSAIC sekaligus Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), M Ali Yusuf menyatakan, gerakan ini membuktikan bahwa potensi wakaf sangat luas.
Melalui kerja sama Bank Indonesia
dan berbagai mitra, lanjut dia, wakaf tidak hanya berdampak pada kemaslahatan umat dan kemakmuran masjid, tapi juga punya peran besar dalam menjaga kelestarian bumi (hablum minal ‘alam).
“Semoga sinergi ini menginspirasi lebih banyak pihak bahwa menjaga lingkungan
dan memperkuat ekonomi umat bisa kita lakukan secara bersamaan melalui wakaf,” katanya.
Guna memastikan keberlanjutan dan keandalan sistem dalam jangka panjang, program ini juga memberikan pelatihan teknis bagi pemuda dan warga lokal Desa Babo.
“Pelatihan ini terkait pemeliharaan harian, pembersihan panel, hingga penanganan kendala teknis ringan agar masyarakat dapat merawat fasilitas solar panel secara mandiri,” ujarnya.
Dalam kesempatan ini, Kepala Desa Babo, Khairi Ramadhan, mengucapkan apresiasi dan terima atas bantuan solar panel untuk wilayah mereka kerap mengalami pemadaman listrik terjadi banjir.
“Adanya pasokan listrik mandiri di masjid ini tidak hanya membantu penerangan ibadah, tetapi juga memberikan ketenangan bagi warga. Ini kami jaga dan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk jangka panjang,” demikian Khairi Ramadhan.

