Banda Aceh|BidikIndonesia.com– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banda Aceh bersinergi dengan Puskesmas Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar, menyosialisasikan hantavirus guna mencegah penularan kepada warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Banda Aceh Akhmad Heru Setiawan di Aceh Besar, Kamis, mengatakan sosialisasi ini penting mengingat kesehatan merupakan hal fundamental dan menjadi prioritas bagi warga binaan.
“Kami bekerja sama dan Puskesmas Ingin Jaya menyosialisasikan serta mengedukasi bahaya hantavirus. Sosialisasi ini mencegah penularan hantavirus di kalangan warga binaan Lapas Kelas IIA Banda Aceh,” katanya.
Hantavirus adalah kelompok virus zoonosis yang disebarkan oleh hewan pengerat, terutama tikus liar. Penularan terjadi saat manusia menghirup partikel debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus. Virus ini memicu demam berdarah dan gangguan ginjal akut.
Sosialisasi dan edukasi pencegahan hantavirus diikuti seratusan warga binaan. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Nia Maisarah, dokter Puskesmas Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar.
Akhmad Heru Setiawan mengatakan sosialisasi dan edukasi merupakan tindak lanjut surat edaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Aceh.
“Kami mengajak warga binaan Lapas Kelas IIA mengikuti sosialisasi dan edukasi dengan serius serta bersungguh-sungguh, sehingga dapat lebih mengenali penyakit disebabkan hantavirus dan proses penularannya serta bagaimana cara mencegahnya,” kata Akhmad Heru Setiawan.
Sementara itu, Nia Maisarah, dokter Puskesmas Ingin Jaya, mengatakan hingga saat ini ada beberapa orang Indonesia terjangkit hantavirus saat berada di kapal pesiar.
“Mereka yang terjangkit hantavirus di antaranya tiga orang meninggal dua, dua dirawat intensif serta tiga orang termasuk kategori gejala ringan pada saat di kapal,” katanya.
Nia Maisarah menyebutkan hantavirus ada di Indonesia sejak 1980-an. Virus tersebut terdeteksi melalui tikus-tikus rumah. Penyebaran hantavirus melalui kontak secara langsung dengan tikus atau melalui urine dan kotorannya atau debu terkontaminasi.
“Proses penularan hantavirus dengan cara terhirup atau kontak urine, feses, atau air liur hewan pengerat terinfeksi. Kontak dengan hewan pengerat terinfeksi melalui gigitan. Serta debu atau benda yang terkontaminasi kotoran hewan pengerat pembawa virus,” katanya.
Nia Maisarah menjelaskan gejala virus tersebut baru terlihat antara satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar dan terinfeksi virus tersebut.
Menyangkut pengobatannya, kata dia, belum adanya pengobatan secara spesifik dan masih dalam penelitian lebih lanjut. Vaksin hantavirus ini dikembangkan di Korea Selatan dan China.
“Adapun langkah pencegahan membiasakan diri rajin mencuci tangan dengan air dan sabun, menjaga kebersihan lingkungan, menjaga kebersihan bahan makanan dan alat pengolahan makanan, memantai kesehatan dan segera melaporkan gejala yang dicurigai,” kata Nia Maisarah.







