Disbudpar Aceh beri pendampingan 30 sanggar terdampak bencana

Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh memberikan pendampingan kepada  30 sanggar seni terdampak bencana banjir dan tanah longsor pada akhir November 2025 agar mereka bangkit dan membangun kembali ruang-ruang kreatif yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

“Pendampingan ini sangat penting untuk keberlanjutan sanggar atau komunitas seni dan ini juga wujud kepedulian Disbudpar Aceh kepada pegiat dan pelestari seni budaya,” kata Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh Nurlaila Hamjah di Banda Aceh, Selasa.

Ia menjelaskan pengelola sanggar yang berada di wilayah Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Utara, Aceh Tamiang, Langsa dan Bireuen akan mengikuti pendampingan dari 3 sampai 5 Agustus di Banda Aceh.

Menurut dia, pendampingan tersebut dirancang dalam dua tahap yakni pada tahap pertama peserta diajak untuk melakukan proses refleksi, penyusunan visi hingga perumusan strategi rebranding sanggar/komunitas.

“Setelah tahap pertama selesai, kita akan melakukan pendampingan online selama dua minggu dan peserta dibimbing untuk praktik branding dan promosi sanggar melalui media sosial,” katanya.

Bacaan Lainnya

Kemudian pada tahap kedua peserta akan dibekali tips dan trik penyusunan program kerja sanggar serta kemampuan untuk membangun jejaring dan menjalin komunikasi dengan calon mitra baik dari instansi pemerintah, swasta, BUMN/BUMD maupun institusi funding lainnya.

“Peserta turut diperkenalkan lembaga mitra dan cara mengakses agar dapat berkolaborasi dalam pelaksanaan program seni budaya,” katanya.

Pihaknya berharap peserta dapat serius mengikuti kegiatan tersebut agar nantinya memperoleh benefit maksimal sehingga memiliki daya tahan menghadapi berbagai tantangan ke depan.

“Kita tahu bahwa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh akhir November 2025 memberikan dampak yang tidak ringan, termasuk keberlangsungan aktivitas seni dan budaya di sanggar-sanggar dan komunitas. Kami percaya bahwa dengan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kerja sama, kita mampu bangkit dan membangun kembali ruang-ruang kreatif yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat,” katanya.

Pihaknya juga berharap lewat program pendampingan tersebut, para manajer sanggar memperoleh pengetahuan, penguatan kapasitas dan solusi yang bermanfaat untuk pulih dan bangkit kembali serta berperan menggerakkan ruang-ruang kreatif yang merupakan ekspresi seni budaya termasuk pembinaan generasi muda.

“Semoga kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan sanggar menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang,” demikian Nurlaila.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *