BPS: Inflasi tahunan Aceh sebesar 5,84 persen di atas sasaran nasional

Banda Aceh|BidikIndonesia.com- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh menyatakan inflasi tahunan (y-on-y) Aceh Juni 2026 sebesar 5,84 persen berada di atas sasaran inflasi nasional akibat kenaikan harga cukup tinggi oleh komoditas pangan strategis.

“Angka ini menunjukkan adanya tekanan kenaikan harga yang cukup tinggi jika dibandingkan kondisi bulan yang sama di tahun lalu. Ini memang perlu menjadi perhatian, karena angka tersebut berada di atas sasaran inflasi nasional,” kata Plh Kepala BPS Aceh Abd Hakim di Banda Aceh, Rabu.

Ia menjelaskan tekanan inflasi Aceh masih banyak dipengaruhi oleh komoditas pangan strategis yang memiliki bobot besar dalam konsumsi masyarakat, seperti beras dan cabai merah. Pergerakan harga komoditas tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor produksi, musim, dan jalur transportasi untuk arus distribusi barang, serta kondisi pasokan antarwilayah.

Ia menyebutkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang inflasi tahunan sebesar 2,95 persen dan untuk komoditas yang andil besar yakni beras, cabai merah, Sigaret Kretek Mesin (SKM), tomat, minyak goreng, ikan tongkol, sigaret kretek tangan (SKT), dan bawang merah.

“Komoditas yang memiliki andil terbesar lainnya adalah nasi dengan lauk, yang juga sangat berkaitan erat dengan pergerakan harga-harga kebutuhan bahan pokok tersebut,” katanya.

Bacaan Lainnya

Ia juga mengatakan, ada beberapa komoditas lainnya yang juga memberikan andil cukup besar pada inflasi tahunan, tetapi di luar kendali karena dipengaruhi oleh harga tingkat global yakni emas dan minyak/bensin.

Selain terjadi inflasi tahunan, BPS juga mencatat bahwa Provinsi Aceh mengalami inflasi secara month-to-month (m-to-m) sebesar 0,56 persen, dibandingkan dengan bulan Mei 2026.

Menurut dia, ada beberapa langkah utama yang perlu dilakukan untuk menjaga laju inflasi adalah memperkuat pengendalian inflasi melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan mengacu pada beberapa strategi, antara lain menjaga ketersediaan pasokan, dan memastikan kelancaran distribusi barang.

“Kelancaran distribusi bisa menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen, serta komunikasi yang efektif kepada masyarakat terkait pola konsumsi yang bijak yang dapat membantu mengurangi tekanan permintaan terhadap komoditas tertentu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *