Pengajian Rutin Majelis Al Mumtaz (Bikers Station Community) Peringati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

Majelis Al Mumtaz dari Komunitas Bikers Station Community menggelar pengajian rutin dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW pada Senin malam (08/09/2025), bertempat di lantai dua Bikers Station Café & Manual Tech Bengkel Service motor Jalan Listrik desa kampung jawa baru kota lhokseumawe. Foto: Dok ist bidik indonesia

LHOKSEUMAWE | bidikindonesia.com – Majelis Al Mumtaz menggelar pengajian rutin dalam rangka memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW pada Senin malam (08/09/2025), bertempat di lantai dua Bikers Station Café & Manual Tech Bengkel Service motor Jalan Listrik desa kampung jawa baru kota lhokseumawe. Kegiatan yang biasanya dilaksanakan setiap malam Selasa ini kali ini mengusung tema khusus, yakni “Menceritakan Kisah Nabi Muhammad SAW dari Kelahiran hingga Masa Wafat Kakek Nabi Muhammad SAW, kedepanya kisah akan bersambung hingga Nabi Dewasa sampai Wafatnya Nabi”

Acara berlangsung penuh kekhidmatan, sebelum tausiah dimulai seluruh jamaah bershalawat bersama. Pengajian dihadiri jamaah dari Biker Station Community dan berbagai kalangan, baik kaum muda maupun masyarakat umum. Pengajian dipimpin oleh Tgk. Irwan Setiadi Amir selaku penceramah utama, yang membawakan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga wafatnya kakek beliau, Abdul Muthalib.

Dalam tausiyahnya, Tgk. Irwan menjelaskan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa agung yang membawa cahaya rahmat bagi seluruh alam. Nabi lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (570 Masehi) di Kota Mekkah, beberapa bulan setelah ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, wafat. Sejak kecil, Nabi tumbuh sebagai anak yatim yang penuh kasih sayang ibunya, Aminah binti Wahab.

Namun, ketika Nabi berusia enam tahun, ibunda tercinta wafat di Abwa saat perjalanan pulang dari Madinah. Setelah itu, Nabi diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, seorang pemimpin Quraisy yang sangat dihormati. Abdul Muthalib memberikan perhatian penuh kepada cucunya ini, menyayanginya lebih daripada anak-anaknya sendiri.

Sayangnya, ketika Nabi Muhammad SAW berusia delapan tahun, kakek yang sangat dicintainya itu berpulang ke rahmatullah. Sejak saat itu, beliau berada dalam asuhan pamannya, Abu Thalib, yang melindunginya hingga dewasa.

Bacaan Lainnya

“Dari perjalanan hidup Nabi di masa kecil, kita belajar bahwa ujian dan kesulitan justru membentuk pribadi Rasulullah SAW menjadi sosok yang sabar, tabah, dan penuh kasih sayang. Beliau tumbuh dengan jiwa kepemimpinan yang kelak membawa risalah Islam untuk seluruh umat manusia,” ungkap Tgk. Irwan dalam ceramahnya.

Selain menyampaikan kisah Nabi, pengajian ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antarjamaah dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Suasana pengajian berlangsung hangat dengan lantunan shalawat serta doa bersama, menambah semarak peringatan Maulid Nabi.

Majelis Al Mumtaz berkomitmen untuk terus menghadirkan pengajian rutin setiap malam Selasa dengan tema-tema berbeda seputar keislaman, sehingga jamaah dapat terus memperdalam ilmu agama serta meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *