LHOKSEUMAWE | bidikindonesia.com, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Lhokseumawe bidang kebudayaan beserta Staff menggelar kegiatan pelestarian budaya daerah di Museum Kota Lhokseumawe pada Selasa, 5 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan warisan budaya lokal kepada generasi muda, khususnya kalangan pelajar.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta diperkenalkan dengan Canang Ceureukeh, alat seni tradisional khas Kota Lhokseumawe yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Selain memiliki nilai seni dan budaya, alat tradisional ini juga memiliki fungsi historis sebagai alat pengusir burung di area persawahan saat masyarakat menunggu masa panen padi.
Kadis P&K Kota Lhokseumawe Yuswardi, melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Novri Saputra Djaja, dalam arahannya menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Ia juga mengimbau para pelajar untuk terus mengenal serta membudayakan penggunaan alat musik tradisional khas daerah dalam berbagai kegiatan adat maupun kegiatan budaya lainnya.
“Canang Ceureukeh merupakan identitas budaya masyarakat Lhokseumawe yang harus terus dijaga keberadaannya. Kami berharap generasi muda dapat menjadi penerus dalam melestarikan warisan budaya ini,” ujar Novri Saputra Djaja di hadapan para pelajar.
Kegiatan tersebut turut dihadiri staf Bidang Kebudayaan Dinas P&K Kota Lhokseumawe, para guru, serta pelajar SMAN 1 Lhokseumawe, khususnya dari mata pelajaran Geografi.
Selain Canang Ceureukeh, Dinas P&K Kota Lhokseumawe juga berharap alat musik tradisional Rapai Uroeh Duk ke depan dapat ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya khas Kota Lhokseumawe. Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan identitas budaya daerah sekaligus menjaga keberlangsungan seni tradisional Aceh di tengah perkembangan







