Sabang|BidikIndonesia.com – Suara mesin jahit terdengar akrab di sebuah ruangan. Tidak nyaring, tidak pula tergesa. Dari ruang inilah lahir berbagai produk kerajinan tangan dengan label Naya. Sebuah usaha rumahan yang telah bertahan satu dekade, menjahit harapan dari sisa-sisa kain dan kesabaran.
Naya bukan sekadar merek. Ia adalah perpanjangan tangan dari Marnizar, perempuan yang sejak 2015 memilih menjadikan keterampilan menjahit sebagai jalan hidup di sebuah rumah sederhana di Desa Balohan, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang.
Tangannya mahir mengolah kain menjadi mukena, baju dewasa dan anak-anak, tas sekolah, tas kantor, dompet, sepatu bayi, topi pantai hingga gantungan kunci dari kain perca. Semuanya lahir dari satu prinsip sederhana, yaitu tidak ada kain yang benar-benar sisa.
Awal mula usaha ini tak datang dari rencana bisnis besar. Marnizar hanya ingin mengembangkan keterampilan yang telah lama ia miliki. Titik baliknya justru datang ketika anaknya mulai masuk sekolah. Dengan bantuan video tutorial di YouTube, ia mencoba menjahit tas sekolah sendiri. Hasilnya di luar dugaan.
“Awalnya cuma untuk anak sendiri, tapi ternyata teman-temannya suka. Dari situ mulai banyak yang minta dibuatkan tas sekolah juga,” ujar Marnizar kepada Aceh Info, Selasa (23/12/2025).
Dari tas sekolah, pesanan berkembang. Orang-orang yang melihat kualitas jahitannya mulai mempercayakan pembuatan mukena. Puluhan potong mukena terjual, menguatkan keyakinannya bahwa usaha ini layak dilanjutkan. Namun bagi Marnizar, kualitas produk bukan satu-satunya tujuan. Ia membawa nilai lain yang jarang dibicarakan dalam usaha kecil: kepedulian terhadap lingkungan.
Ia sadar, industri tekstil kerap menjadi penyumbang limbah. Karena itu, sejak awal ia bertekad agar usahanya tidak ikut memperparah persoalan tersebut. Setiap sisa kain, sekecil apa pun, diolah kembali.
“Saya tidak ingin usaha ini menjadi penyumbang sampah. Sisa kain dari mukena atau tas selalu saya olah lagi jadi produk lain, sampai potongan paling kecil pun tetap dimanfaatkan,” katanya.
Dari kain perca itulah lahir gantungan kunci, karet rambut, dompet kecil, hingga sepatu bayi. Produk-produk sederhana yang justru menjadi ciri khas Naya. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp350.000 per potong, membuatnya menjangkau berbagai lapisan konsumen.
Menariknya, meski telah berjalan sepuluh tahun dan produknya menembus pasar luar daerah, Naya masih dikerjakan seorang diri. Marnizar belum merekrut karyawan, bukan karena enggan berkembang, melainkan karena keterbatasan ruang dan sulitnya menemukan tenaga dengan keterampilan menjahit sesuai standar yang ia inginkan.
Dalam sebulan, omzet Naya berkisar Rp4–5 juta. Angka itu melonjak saat musim tertentu seperti tahun ajaran baru dan Lebaran, bisa mencapai Rp7–8 juta. Produk-produknya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Aceh dan sejumlah provinsi lain seperti Jakarta, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, NTB, hingga Jawa Timur. Bahkan, beberapa produknya sempat dibawa dan dijual di Hongkong serta Mesir oleh kerabat dekat.
Namun perjalanan ini tidak tanpa hambatan. Selain keterbatasan sumber daya manusia, minimnya dukungan regulasi dan promosi dari pemerintah setempat masih menjadi tantangan besar.
“Sebenarnya pelanggan bukan tidak mau membeli, tapi banyak yang tidak tahu. Kami butuh dukungan promosi dan kolaborasi agar produk lokal seperti ini lebih terlihat,” tutur Marnizar.
Di tengah keterbatasan itu, Naya tetap bertahan menjahit pelan-pelan, tanpa gegap gempita. Dari Balohan, sebuah usaha kecil membuktikan bahwa ketekunan, kepedulian lingkungan, dan kualitas bisa berjalan beriringan. Seperti jahitannya, rapi dan kuat, meski dikerjakan dalam sunyi.[]







