Langsa|BidikIndonesia.com – Upaya pemulihan sosial dan ekonomi pascabencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatra terus dilakukan dari berbagai aspek baik dalam bidang pertanian maupun kesehatan. Kedatangan Tim Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM FP) Universitas Abulyatama (UNAYA) disambut hangat oleh Pemerintah Kecamatan Langsa Lama dan masyarakat Gampong Baro, Kamis, 5 Februari 2026.
Kehadiran mereka menandai dimulainya rangkaian Program Mahasiswa Berdampak, yang merupakan bagian dari penguatan Tridarma Perguruan Tinggi dan selaras dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dalam mendorong keterlibatan mahasiswa menjawab persoalan nyata masyarakat melalui program pengabdian yang berdampak.
Dukungan penuh terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Kota Langsa. Walikota Langsa, Jeffry Sentana, S. Putra, SE, menyatakan bahwa inisiatif mahasiswa UNAYA sejalan dengan agenda pemulihan pascabencana dan penguatan ketahanan pangan keluarga. Ia menilai kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah kecamatan, aparatur gampong, serta kelompok masyarakat menjadi kunci agar program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu memberi dampak nyata dan berkelanjutan bagi warga.
Penyambutan mahasiswa berlangsung dalam suasana akrab dan partisipatif. Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Langsa Lama, Yundi Mauliza, S.STP, MM, Geuchik Gampong Baro Elsa Asrina Poetry, S.IP, Dosen Pendamping Dr. Rahmah Hayati, S.TP, M.Agr, serta mitra kelompok tani dan pedagang setempat.
Program yang telah direncanakan mengangkat tema “Aksi Mahasiswa UNAYA Berdampak dalam Pemberdayaan Masyarakat Langsa: Program Urban Farming sebagai Upaya Pencegahan Stunting, Hipertensi, dan Diabetes Melitus.” Tema ini dinilai relevan dengan kondisi masyarakat pascabencana, dimana beberapa keluarga menghadapi keterbatasan akses pangan, penurunan pendapatan, serta meningkatnya risiko masalah gizi dan penyakit tidak menular.
Camat Langsa Lama, Yundi Mauliza, S.STP, MM, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan mahasiswa dalam momentum penting pemulihan masyarakat.
“Pasca banjir dan longsor, masyarakat perlu didorong untuk bangkit. Urban farming bukan hanya soal menanam, tetapi tentang membangun kembali kemandirian pangan dan ketahanan keluarga, sekaligus mencegah penyakit tidak menular seperti stunting, hipertensi, dan diabetes,” ujarnya.
Senada dengan itu, Geuchik Gampong Baro, Elsa Asrina Poetry, S.IP, menegaskan kesiapan aparatur gampong dan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan program.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tahap awal. Keterlibatan kelompok tani dan pedagang penting agar hasil urban farming bisa memberi manfaat ekonomi dan memperkuat pemulihan masyarakat,” katanya.
Sebagai bagian awal program, mahasiswa UNAYA telah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama warga dan pemangku kepentingan lokal. Diskusi ini membahas dampak bencana terhadap pola tanam dan ketersediaan pangan, pemanfaatan pekarangan pascabanjir, pemilihan komoditas sayur cepat panen dan bernilai gizi tinggi, hingga peluang integrasi hasil urban farming dengan aktivitas ekonomi lokal.
Dosen pendamping, Dr. Rahmah Hayati, S.TP, M.Agr, menekankan bahwa Program Mahasiswa Berdampak merupakan respons akademik terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, sekaligus sejalan dengan dorongan Kemdiktisaintek agar program kampus memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
“Mahasiswa hadir bukan hanya untuk belajar, tetapi untuk berkontribusi. Urban farming menjadi strategi adaptif dalam menghadapi dampak bencana, memperbaiki gizi keluarga, dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Melalui program ini, Tim Mahasiswa BEM FP UNAYA menyatakan kesiapan menjalankan pengabdian masyarakat tepatnya di Gp. Baro Kec. Langsa Lama secara kolaboratif dan berkelanjutan. Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana, inisiatif ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam membangun ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan daya pulih (resiliensi) gampong dari tingkat rumah tangga.
