Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Ketersediaan stok darah di Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Banda Aceh saat ini berada pada level terbatas. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu layanan transfusi darah di sejumlah rumah sakit, terutama bagi pasien yang membutuhkan transfusi rutin seperti penyintas thalasemia.
“Ketersediaan darah saat ini cukup mengkhawatirkan,” kata Ketua PMI Kota Banda Aceh, Ahmad Haeqal Asri, Banda Aceh, Kamis, 15 Januari 2026.
Haekal menjelaskan, keterbatasan stok darah terjadi akibat menurunnya jumlah pendonor dalam beberapa waktu terakhir, sementara permintaan darah dari fasilitas pelayanan kesehatan justru terus mengalami peningkatan. Ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan tersebut membuat stok darah di PMI semakin menipis dan membutuhkan respons cepat dari masyarakat.
“Kami mengharapkan kepedulian masyarakat untuk datang mendonorkan darahnya. Donasi darah sangat berarti, khususnya bagi pasien talasemia yang bergantung pada transfusi secara berkala,” ujarnya.
Haekal menegaskan, donor darah tidak hanya merupakan tindakan medis, tetapi juga bentuk nyata kepedulian sosial. Setiap satu kantong darah yang disumbangkan berpotensi menyelamatkan lebih dari satu pasien yang membutuhkan.
Menurutnya, seluruh proses donor darah di UDD PMI Kota Banda Aceh dilaksanakan sesuai standar dan prosedur kesehatan, dengan pendampingan tenaga medis yang kompeten. Masyarakat yang ingin mendonorkan darah dapat datang langsung ke UDD PMI Kota Banda Aceh pada jam pelayanan yang telah ditentukan.
Selain untuk pasien thalasemia, kebutuhan darah juga sangat tinggi dalam penanganan kasus kecelakaan lalu lintas, persalinan, serta berbagai kondisi darurat medis lainnya. Oleh karena itu, PMI berharap partisipasi warga Banda Aceh dan sekitarnya dapat terus meningkat demi menjaga ketersediaan darah.
“Donor darah adalah bentuk kepedulian yang sederhana namun berdampak besar. Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga ketersediaan darah demi keselamatan sesama,” ujar Haekal.







