SIMEULUE | BidikIndonesia.com – ‘Air Susu Dibalas Air Tuba’. Pepatah tersebut diharap kelak tak dialamakan masyarakat Simeulue pada sosok Muzakir Manaf (Mualem) gubenur Aceh periode 2024-2029.
Bukan tanpa alasan, sebab, saat Pilkada 2024 lalu, masyarakat Simeulue diketahui turut mensukseskan pasangan Muzakir Manaf-Fadhlullah meraih kursi empuk Gubenur dan Wakil Gubenur Aceh melalui perolehan suara sekitar 65 persen.
Dengan harapan, dikepemimpinan Mualem, Simeulue yang secara geografis terpisah langsung dengan daratan Aceh akan mendapat perhatian lebih, setidaknya tak tertinggal jauh dari kabupaten lain dibumi tanah rencong.
Nah, diantaranya menyangkut peningkatan layanan tranportasi laut penghubung Simeulue dengan kabupaten di wilayah barat selatan. Maklum, kapal laut yang representatif merupakan kebutuhan dasar yang terpisahkan bagi masyarakat Simeulue.
Namun, alih-alih asa itu terwujud, justru saat ini tersiar kabar miris yang bikin rakyat di kabupaten kepulauan Aceh itu elus dada. Ini sejalan dengan wacana pemerintah Aceh yang akan mengalihkan operasional kapal Aceh Hebat 1 (AH 1) dari kabupaten kepulauan Simelue ke Krueng Geukueh lintasan Penang Malaysia sebagaimana statemen Sekda Aceh dimedia pers beberapa waktu lalu.
Buntutnya, reaksi beruntun dari berbagai elemen masyrakat khususnya warga Simeulue menggema dan menyoal wacana Pemprov yang dinilai tak tepat bahkan jauh dari kata populis itu.
Diantaranya, datang dari Indra BN. Putra asli Simeulue yang diketahui berprofesi sebagai Jurnalis Waspada Online (Group Harian Waspada) ini menyampaikan kekecewaannya.
Bukan tanpa alasan, menurutnya, keberadaan kapal AH 1 sebagai tranportasi masal selama ini telah menjadi kebutuhan pokok yang tak terpisahkan bagi masyarakat Simeulue rute Calang Sinabang atau sebaliknya.
Disisi lain, kebijakan itupun terkesan dicetus dengan ‘grasak grusuk’ tanpa ada informasi atau sosialisasi terlebih dahulu hingga akhirnya memicu kegelisahan warga dan ujungnya berbuntut reaksi.
“Kapal AH 1 ini sangat krusial bagi kita masyarakat Simeulue, boleh dikatakan urat nadi, karena itu, selaku warga Simeulue, saya berharap Gubenur Aceh meninjau kembali dan membatalkan rencana pengalihan pelayaran AH 1,” ujar Indra BN kepada media ini, Rabu (19/11/2025).
Wacana pengalihan kapal Aceh Hebat 1, timpal sosok yang dikenal aktif mengawal dan mengkritisi kebijakan publik ini, bukan hanya tidak adil, tetapi juga menunjukkan bahwa kepentingan masyarakat Simeulue seolah tak ditempatkan sebagai prioritas.
“Ini jelas melukai hati masyarakat Simeulue. Seakan-akan kebutuhan dasar kami bisa dipindakan begitu saja tanpa memikirkan dampaknya,” ujar Indra dengan nada kecewa.
Setali tiga uang, ia juga menilai, wacana Pemprov Aceh telah menimbulkan kegelisahan luas. Mestinya, Pemerintah lebih mengedepankan rasa keadilan sebelum mengutak-atik layanan transportasi vital yang telah bertahun-tahun menopang kehidupan rakyat Simeulue.“
Dimana letak keadilannya jika wilayah yang paling bergantung pada kapal justru menjadi yang pertama dikorbankan?,” demikian tandas Indra BN. (Rk)
