Harga Kakao di Aceh Utara Turun Drastis, Petani Merugi

Aceh Utara|BidikIndonesia.com – Harga kakao kering di tingkat petani Aceh Utara turun drastis menjadi Rp 40 ribu per kilogram dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp 185 ribu hingga Rp 190 ribu per kilogram. Kondisi ini membuat para petani merugi lantaran pendapatan tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan untuk merawat tanaman tersebut.

“Pupuk mahal, belum lagi biaya perawatan dan membayar gaji pekerja, ditambah buah kakao yang terserang hama. Dengan kondisi harga anjlok total seperti sekarang ini membuat para petani sangat merugi,” kata salah seorang petani kakao di Kecamatan Nisam, Aceh Utara, Mahdi.

Mahdi menanam pohon kakao di atas 2,5 hektare. Ia melakoni profesi sebagai petani tanaman palawija itu sejak 15 tahun terakhir.

Kakao tersebut merupakan hasil olahan Mahdi bekerja sama dengan Koperasi Dinas Perkebunan Bireuen yang menampung biji fermentasi.

“Saya juga menjual ke penampung besar di Nisam. Biasanya sekali penjualan dengan kapasitas 200 kilogram per bulan,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Omzet yang didapat Mahdi saat ini pun anjlok total. Biasanya petani asal Aceh Utara itu bisa mendapatkan uang Rp 7 juta per pekan, tetapi sekarang menjadi Rp 2,5 juta.

“Saya mempekerjakan lima orang di kebun untuk merawat dan memanen kakao. Setelah dipanen langsung saya jual, karena tidak berani untuk menyimpan disebabkan tak tersedia tempat khusus lantaran akan berpengaruh pada kualitas biji serta harga yang tidak menentu,” ucapnya.

Penjualan bibit kakao juga berdampak saat ini. Ia mengaku pembeli bahkan membatalkan pembelian 500 hingga 2.000 batang bibit yang sudah dipesan secara tiba-tiba karena harga kakao turun bebas.

“Saya berharap pemerintah serius menangani harga komoditi pokok Indonesia, karena itu darah hidup dan matinya para petani,” kata Mahdi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *