Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, meminta sinkronisasi data kemiskinan kota agar penyaluran bantuan pangan nasional benar-benar akurat dan tepat sasaran. Perlu pembaruan data agar seluruh warga yang berhak bisa mendapatkan bantuan.
“Jadi dinas sosial datanya harus sinkron dengan data kemiskinan kota. Mana penerima manfaat yang memang harus diutamakan, dari atas ke bawah harus sudah jelas mereka-mereka yang wajib,” kata Illiza.
Dia menyampaikan Banda Aceh menerima alokasi bantuan pangan untuk periode Oktober hingga November 2025 dari Bulog mencangkup 9.996 keluarga penerima manfaat atau Penerima Bantuan Pangan (PBP) di seluruh kecamatan Banda Aceh.
Total bantuan tersebut, kata Illiza, setara dengan 199.920 kilogram atau 199 ton beras dan 39.984 liter minyak goreng.
Wali kota mengatakan angka penerima bantuan kali ini menurun bila membandingkannya dengan alokasi Juni dan Juli 2025 yang mencapai 10.393 keluarga setara 207.860 kilogram beras atau 207 ton. Namun, ada penambahan jumlah beras dan minyak dalam penyaluran.
“Terjadi penambahan dari jumlah beras dan minyak, tetapi penerima manfaat berkurang. Semoga ke depan bisa meningkat, tidak akan kurang penerima manfaat,” ujarnya.
Illiza menegaskan, seluruh proses distribusi dilakukan secara transparan dan terdokumentasi melalui Sistem Informasi Bantuan Pangan (SIBP) sesuai Petunjuk Teknis Nasional.
Program ini, kata dia, tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, tetapi juga bagian dari strategi nasional menjaga stabilitas harga, pasokan pangan, dan menekan inflasi.
Adapun rincian penyaluran bantuan di Banda Aceh, antara lain Kecamatan Baiturrahman 1.330 PBP (26.600 kilogram beras dan 5.320 liter minyak goreng) serta Banda Raya 901 PBP (18.020 kilogram beras dan 3.604 liter minyak goreng).
Lalu Jaya Baru 881 PBP (17.620 kilogram beras dan 3.524 liter minyak goreng), Kuta Alam 1.269 PBP (25.380 kilogram beras dan 5.076 liter minyak goreng), serta Kuta Raja 903 PBP (18.060 kilogram beras dan 3.612 liter minyak goreng).
Kemudian Lueng Bata 1.204 PBP (24.080 kilogram beras dan 4.816 liter minyak goreng) serta Meuraxa 1.149 PBP (22.980 kilogram beras dan 4.596 liter minyak goreng), Syiah Kuala 1.190 PBP (23.800 kilogram beras dan 4.760 liter minyak gorengnya) serta Ulee Kareng 1.169 PBP (23.380 kilogram beras dan 4.676 liter minyak goreng).***







