Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Bea Cukai Langsa menggelar operasi terpadu dengan imigrasi guna mencegah penyelundupan barang dan masuknya orang asing secara ilegal ke wilayah Indonesia melalui Provinsi Aceh.
Kepala Bea Cukai Langsa Dwi Harmawanto di Langsa, Rabu, mengatakan patroli terpadu melibatkan personel Imigrasi Langsa merupakan wujud komitmen bersama dalam menjaga kawasan pesisir timur Provinsi Aceh dari berbagai aktivitas ilegal.
“Patroli terpadu ini merupakan sinergi antarinstansi. Sinergi ini menjadi kunci pengawasan. Kami tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Kawasan pesisir timur Provinsi Aceh memiliki potensi kegiatan ilegal, baik impor maupun ekspor serta masuknya orang asing secara ilegal,” katanya.
Dwi Harmawanto mengatakan patroli terpadu tersebut difokuskan pada pengawasan kapal yang melintasi pesisir timur Provinsi Aceh. Patroli guna mengantisipasi pelanggaran di bidang kepabeanan dan keimigrasian.
Menurut dia, pesisir timur Provinsi Aceh memiliki karakteristik perairan terbuka yang berpotensi dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab sebagai jalur keluar masuk ilegal.
Oleh karena itu, kata dia, pengawasan terus diperkuat melalui kolaborasi antarinstansi. Imigrasi mengawasi lalu lintas orang, sedangkan Bea Cukai mengawasi pergerakan barang yang melintasi perbatasan kepabeanan.
“Patroli terpadu ini merupakan wujud sinergi antarinstansi dalam memperkuat pengawasan wilayah perbatasan dan menjaga keamanan jalur laut sebagai salah satu pintu masuk negara,” katanya
Kepala Bea Cukai Langsa tersebut mengatakan pihaknya bersama aparat penegak hukum lainnya mengungkap berbagai kasus penyelundupan dalam beberapa tahun terakhir.
Barang yang diselundupkan di antara satwa liar, sepeda motor, suku cadang kendaraan, rokok ilegal, dan lain. Barang-barang tersebut didatangkan dari luar negeri tanpa dokumen kepabeanan.
“Kami berkomitmen memperkuat pengawasan di pesisir timur Provinsi Aceh guna mencegah keluar masuknya orang maupun barang secara ilegal serta menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah perbatasan Indonesia,” kata Dwi Harmawanto.
