Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Mawardi Nur menemui Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab (UEA), Judha Nugraha guna menjajaki peluang pengembangan investasi migas dari negara tersebut.
“Ikhtiar dan langkah yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan,” kata Mawardi Nur dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Sabtu.
Pertemuan tersebut membahas peluang memperkuat kerja sama investasi sektor energi antara Indonesia dan UEA, khususnya dalam mendorong pengembangan potensi hulu migas di wilayah Aceh.
Selain itu, juga mengenai strategi membangun kepercayaan investor internasional serta membuka peluang kerja sama jangka panjang yang memberikan manfaat bagi daerah.
Salah satu pembahasannya adalah terkait keterlibatan Mubadala Energy dalam pengembangan migas Andaman. Langkah awal yang telah berjalan tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan untuk membuka peluang investasi lebih besar pada periode berikutnya.
Mawardi Nur menilai, keberhasilan investasi migas tidak hanya diukur dari kegiatan eksplorasi dan produksi, tetapi juga dari kemampuan membangun kepercayaan serta menciptakan ekosistem investasi yang berkelanjutan.
“Perubahan besar tidak dapat diwujudkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Dibutuhkan proses, konsistensi, kerja keras, serta kesabaran untuk menjawab setiap tantangan yang ada,” ujarnya.
Menurutnya, kedekatan hubungan budaya antara Indonesia dan UEA menjadi modal positif dalam membangun kemitraan, apalagi Aceh yang identik ketimuran.
“Karena itu, Aceh perlu mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan tetap memperhatikan kondisi daerah, karakteristik sosial budaya, serta kearifan lokal,” kata Mawardi.
Dalam pertemuan itu, Dubes RI untuk UEA, Judha Nugraha menyarankan agar BPMA bersama pemerintah menyiapkan proposal bisnis yang komprehensif mengenai rencana pengembangan hulu migas di Aceh dan hilirisasi.
Proposal tersebut diperlukan agar peluang investasi dapat ditawarkan secara lebih konkret kepada calon mitra usaha di UEA, dengan memperhatikan aspek kelayakan ekonomi, kebutuhan infrastruktur, skema bisnis, serta potensi pasar.
Menurutnya, rencana pengembangan lapangan gas di WK South Andaman dapat menjadi momentum untuk mempersiapkan ekosistem industri hilir migas di Aceh.
Karena itu, potensi sumber daya gas perlu dihubungkan dengan rencana pengembangan industri pengolahan, infrastruktur pendukung, dan peluang investasi jangka panjang.
“Kerja sama investasi UEA dengan Indonesia sebagai peluang jangka panjang yang perlu dipersiapkan secara serius. Aceh sebagai bagian dari Indonesia memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam kerja sama tersebut,” katanya.
Ia menambahkan, jika terdapat satu perusahaan yang berhasil mengembangkan investasinya di suatu wilayah, maka diyakini bakal menarik perhatian perusahaan dari berbagai negara lainnya.
“Keberhasilan tersebut menjadi referensi bahwa wilayah tersebut memiliki prospek dan lingkungan investasi yang menjanjikan,” demikian Judha Nugraha.


