Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Mawardi Nur memaparkan potensi dan peluang migas Aceh saat menjadi pembicara dalam FGD dan seminar Economic, Energy and Sustainability Forum 2026 yang mengangkat tema “From Resources to Prosperity”.
Kegiatan dengan subtema “Energi, Investasi dan Keuangan Syariah untuk Masa Depan Ekonomi Aceh” diselenggarakan Pengurus Besar Organisasi Alumni dan Ex-Santri Madrasah Ulumul Qur’an (PB ORALEXISMUQ), di Landmark BSI Aceh, Banda Aceh.
Mawardi Nur menyampaikan, pengelolaan migas di Aceh memiliki kekhususan sebagaimana diatur dalam MoU Helsinki, UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), serta Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2015.
“Melalui regulasi tersebut, Pemerintah Aceh memiliki kewenangan khusus dalam pengelolaan bersama sumber daya migas hulu melalui BPMA,” kata Mawardi Nur.
Mawardi memaparkan, perkembangan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di sejumlah wilayah kerja Aceh, termasuk berbagai upaya peningkatan produksi, kegiatan survei seismik, pengeboran sumur eksplorasi, serta pengembangan potensi sumber daya migas yang diharapkan dapat mendukung ketahanan energi dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam pemaparannya, Mawardi turut mengangkat pengalaman Uni Emirat Arab (UEA) sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah negara membangun kekuatan ekonomi dan menjadikan sektor energi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan jangka panjang.
“Uni Emirat Arab (UEA) memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana sebuah negara mampu membangun masa depan melalui visi besar, keberanian mengambil peluang, dan konsistensi dalam mengembangkan sektor energi serta investasi,” ujarnya.
Menurutnya, kemajuan suatu negara maupun daerah tidak dapat dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan keberanian untuk membuka diri terhadap investasi, membangun kepercayaan, menciptakan iklim usaha yang kondusif, serta mengembangkan kemitraan jangka panjang.
Ia menilai, Aceh memiliki potensi dan peluang yang besar untuk dikembangkan, khususnya pada sektor energi dan sumber daya alam.
Namun, potensi tersebut perlu diiringi dengan perubahan pola pikir, keterbukaan terhadap peluang investasi, serta kemampuan melihat pembangunan dalam perspektif jangka panjang seperti UEA yang berkembang menjadi salah satu hub energi internasional.
Menurutnya, keberhasilan investasi tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan yang terlibat secara langsung, tetapi juga dapat membuka pintu bagi masuknya investasi dan pelaku usaha dari negara lain.
Ia menuturkan, ketika sebuah negara berhasil menghadirkan investasi dan menciptakan keberhasilan bagi satu perusahaan, kepercayaan akan tumbuh.
“Kemudian, peluang investasi lainnya akan ikut berdatangan, bahkan dari negara-negara yang berbeda. Inilah pentingnya membangun ekosistem investasi dan kemitraan jangka panjang,” jelasnya.
Ia berharap, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Aceh dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam, khususnya migas, agar memberikan nilai tambah yang lebih luas bagi perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.
Pengembangan sektor migas Aceh diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect).
“Melalui peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja lokal, penguatan industri pendukung, serta kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Aceh secara berkelanjutan,” demikian Mawardi Nur.


