Banda Aceh|BidikIndonesia.com – BPBD Kabupaten Aceh Besar melibatkan masyarakat secara aktif dalam penanggulangan bencana guna meningkatkan kesadaran warga.
“Salah satu upaya meningkatkan kesadaran bencana adalah pendekatannya harus berbasis masyarakat, bukan hanya berupa ceramah atau sosialisasi satu arah,” kata Kalaksa BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil di Lambaro, Selasa.
Ia menjelaskan pendekatan berbasis masyarakat tersebut dimulai dari gampong/desa. Gampong merupakan lingkungan yang paling dekat dengan masyarakat.
“Artinya, edukasi kebencanaan perlu melibatkan keuchik, aparatur gampong, tuha peut, kader, pemuda, kelompok perempuan, relawan, dan tokoh masyarakat,” katanya.
Kemudian pendekatan yang dilakukan yakni berbasis risiko. Di mana materi materi yang disajikan jangan dibuat sama untuk semua daerah.
Menurut dia untuk gampong yang rawan banjir
diberikan edukasi banjir dan evakuasi. Daerah yang rawan longsor diberikan edukasi mengenai tanda-tanda longsor.
Selanjutnya, untuk daerah yang sering mengalami Karhutla diberikan edukasi pencegahan kebakaran lahan.
Ketiga adalah pendekatan praktik. Masyarakat akan lebih mudah memahami dengan melakukan simulasi, misalnya simulasi evakuasi, pemadaman awal, pertolongan pertama, atau latihan komunikasi ketika terjadi bencana.
Keempat, pendekatan komunikasi yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Informasi kebencanaan sebaiknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan disebarkan melalui WhatsApp group gampong, media sosial,
pengeras suara meunasah, pertemuan masyarakat, sekolah, dan kegiatan
masyarakat.
Selanjutnya, membangun prinsip “tetangga adalah penolong pertama”. Dalam kondisi bencana, BPBD tidak mungkin langsung berada di setiap titik
kejadian.
Karena itu, masyarakat yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian harus memiliki kemampuan dasar untuk memberikan pertolongan awal sambil menunggu bantuan dari pemerintah atau tim penyelamat.
“Jadi pendekatannya bukan sekadar “masyarakat harus membantu pemerintah”, tetapi lebih kepada “pemerintah dan masyarakat merupakan satu kesatuan dalam mengurangi risiko bencana,” katanya.
Lebih lanjut ia mengemukakan, dalam peningkatan partisipasi masyarakat dalam penanganan bencana harus dibangun sejak dini.
“Partisipasi masyarakat tidak hanya dibutuhkan ketika bencana sudah terjadi, tetapi harus dibangun sejak sebelum bencana, saat tanggap darurat,
sampai setelah bencana,” katanya.
Menurut dia, ada beberapa hal yang dapat dan perlu dilakukan di Aceh Besar antara lain meningkatkan edukasi dan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat, terutama di gampong-gampong yang memiliki risiko tinggi terhadap banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan, angin kencang, gempa bumi, maupun tsunami.
Selanjutnya, memperkuat peran masyarakat dan aparatur gampong dengan membentuk kelompok relawan/masyarakat tangguh bencana dan melakukan simulasi dan latihan secara berkala dan mendorong masyarakat mengenali risiko di lingkungan masing-masing, seperti mengetahui jalur evakuasi, titik kumpul, lokasi yang
rawan longsor atau banjir, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan lebih dahulu.
Kemudian membangun sistem pelaporan dari masyarakat kepada pemerintah, sehingga masyarakat dapat segera melaporkan kejadian, kondisi lingkungan, pohon tumbang, kebakaran lahan, kenaikan debit air, maupun kondisi lain yang berpotensi menjadi bencana, memanfaatkan media sosial dan media komunikasi gampong untuk
menyebarkan informasi peringatan dini dan edukasi kebencanaan dan membangun budaya gotong royong, sehingga masyarakat tidak hanya menunggu BPBD atau pemerintah ketika terjadi bencana.
“Jadi, masyarakat perlu ditempatkan bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai bagian dari sistem penanggulangan bencana,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat Aceh Besar sebenarnya memiliki modal sosial yang cukup kuat, terutama dalam hal gotong royong, membantu tetangga, dan bekerja bersama ketika terjadi musibah.
Hal tersebut menjadi kekuatan dalam penanggulangan bencana dan yang masih menjadi tantangan adalah kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi.
“Sebagian masyarakat masih cenderung lebih responsif ketika bencana sudah terlihat
atau sudah berdampak langsung terhadap kehidupan mereka. Seperti ketika terjadi kebakaran lahan, banjir, angin kencang, atau
kondisi cuaca ekstrem, masyarakat biasanya cepat memberikan informasi dan membantu di lapangan,” katanya.
Menurut dia, kesadaran untuk melakukan tindakan pencegahan seperti tidak membakar lahan, membersihkan saluran air, memangkas pohon yang berisiko tumbang, menyiapkan tas siaga, mengetahui jalur evakuasi, dan mengikuti informasi peringatan dini masih perlu terus diperkuat.
“Bukan berarti masyarakat Aceh Besar tidak
peduli terhadap bencana. Justru kepeduliannya sudah ada, tetapi perlu diarahkan dari sekadar respons ketika bencana terjadi menjadi kesiapsiagaan dan pencegahan sejak sebelum bencana,” katanya.

