Banda Aceh|BidikIndonesia.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Aceh menyatakan komitmen membantu dan memperkuat program pemanfaatan lahan bekas bencana bagi kelompok tani untuk menanam tanaman hortikultura seperti bawang merah, cabai dan jagung.
“Kita punya program dan fokus di daerah bencana untuk pertanian, yaitu tanam bawang merah, cabai, dan jagung,” kata Kepala KPwBI Aceh Agus Chusaini di Banda Aceh, Selasa.
Agus menyampaikan, sejauh ini pihaknya telah membantu kelompok petani melakukan penanaman pada lahan sawah bekas banjir yang mengalami rusak berat di sejumlah titik dalam wilayah Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.
Pelaksanaan piloting program ini, kata dia, yang sudah selesai dan panen adalah tanaman bawang merah pada lahan sisa lumpur banjir seluas satu hektare di Desa Meunasah Teungoh Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya.
“Sudah ditanami di daerah yang kena bencana cukup berat (bawang merah di Pidie Jaya), dan realisasinya cukup baik,” ujarnya.
Agus menyampaikan, selain bawang merah, pengembangan tanaman hortikultura untuk cabai dan jagung juga telah ditanami pada sejumlah titik, masing-masing seluas satu hektare di wilayah bencana Kabupaten Pidie-Pidie Jaya.
Program penanaman di lahan bekas banjir tersebut dilaksanakan oleh kelompok tani di daerah dengan bimbingan ahli pertanian dari Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh yang ikut bekerjasama dengan KPwBI Aceh.
“Bawang merah sudah panen, tapi untuk cabai sama jagung masih dalam proses. Kita coba hasilnya nanti, kalau ini bagus kita laporkan ke pemerintah,” katanya.
Menurut Agus, keberhasilan program percontohan tersebut dapat menjadi bukti bahwa lahan sawah yang terdampak bencana atau rusak berat masih bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Agus berharap, program tersebut dapat direplikasi, karena itu pihaknya sedang mencoba membangun kerjasama pemerintah Aceh dan kabupaten/kota terdampak bencana.
“Kami berharap ini direplikasi oleh pemerintah daerah. Alhamdulillah, kemarin kami mendapat informasi dari provinsi sudah ada yang menanam bawang merah di daerah bencana,” ujarnya.
Dirinya menuturkan, program tersebut juga diarahkan untuk membantu masyarakat terdampak bencana agar tetap memiliki penghasilan, tanpa harus menunggu seluruh proses pemulihan lahan selesai.
“Jadi upayanya itu tidak menunggu lahan dibersihkan dulu baru ditanam. Ya, lakukan saja dulu supaya mereka berpenghasilan, sambil dioptimalisasi lahannya,” kata Agus.
Ia menyebutkan, petani yang menanam di daerah terdampak bencana ini sebelumnya merupakan petani padi. Karena itu, perbedaan karakteristik antara padi dan hortikultura membuat para petani membutuhkan pendampingan serta pelatihan.
“Mungkin perlu pelatihan, nanti kami sediakan untuk para petani. Karena petani yang menanam bawang itu juga dulunya petani padi,” ujarnya.
Dirinya menambahkan, pengembangan pertanian di wilayah terdampak bencana merupakan bagian dari upaya BI meningkatkan kapasitas produksi pangan.
Menurutnya, pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan melalui distribusi barang, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan produksi.
“Jadi ingat bahwa inflasi itu bisa diselesaikan kalau kapasitas produksinya dinaikkan,” demikian Agus Chusaini.

